Breaking

Kospi Turun Dua Persen Pasar Saham Asia Bergerak Bervariasi

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 29 Juni 2026
Kospi Turun Dua Persen Pasar Saham Asia Bergerak Bervariasi
ILUSTRASI, Pasar saham Asia Pasifik bergerak bervariasi dengan Nikkei 225 melemah dan Topix menguat. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Kondisi bursa saham di wilayah Asia Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam pada pembukaan perdagangan Senin pagi, 29 Juni 2026. Dinamika di pasar keuangan ini berjalan selaras dengan situasi geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Di antara sejumlah bursa saham regional, indeks Kospi di Korea Selatan terpantau mengalami penurunan hingga 2 persen. Sementara itu, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah sebesar 0,35 persen, berbeda dengan indeks Topix yang justru berhasil menguat 0,43 persen.

Pada awal perdagangan hari ini, indeks Kospi tercatat langsung merosot 2,29 persen. Di sisi lain, indeks Kosdaq yang melacak saham-saham kapitalisasi kecil mengalami kenaikan 0,97 persen, dan indeks acuan Australia atau ASX 200 turut mendaki sebesar 0,41 persen.

Faktor utama yang memicu sentimen pasar ini adalah tindakan militer yang diluncurkan oleh Amerika Serikat terhadap beberapa target di Iran pada akhir pekan kemarin. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk balasan atas serangan yang sebelumnya terjadi di sepanjang Selat Hormuz oleh pihak Teheran.

Presiden Donald Trump selanjutnya menyampaikan ancaman yang sangat keras kepada Iran melalui sebuah pernyataan di platform Truth Social. "Pesawat Amerika Serikat baru saja menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, dan situs radar pantai, karena melanggar Perjanjian Gencatan Senjata, LAGI!,” tulis Trump, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan keterangan seorang sumber dari Pakistan yang mengikuti pembicaraan damai, proses negosiasi antarpihak saat ini tengah dihentikan sementara. Walau demikian, seluruh delegasi tetap menempatkan perwakilan mereka di Swiss agar dapat segera melanjutkan diskusi apabila momentumnya sudah tepat.

Kekhawatiran akan tersumbatnya pasokan energi membuat harga minyak mentah dunia merangkak naik pada perdagangan Minggu pagi. Minyak Brent mentah internasional meningkat 0,8 persen ke level US$ 72,57 per barel, sedangkan kontrak berjangka West Texas Intermediate naik sebesar 1,1 persen menuju US$ 70.

Pada hari Minggu waktu setempat, saham berjangka sempat berada di zona hijau di tengah eskalasi ketegangan antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Indeks Dow Jones berjangka meroket 124 poin atau setara 0,2 persen, disusul indeks S&P 500 yang menguat 0,4 persen, serta Nasdaq yang bertambah sebanyak 0,5 persen.

Pada pekan sebelumnya, pasar saham di Amerika Serikat menorehkan performa yang fluktuatif lantaran para pelaku pasar mulai memindahkan modal mereka keluar dari sektor teknologi. Sepanjang pekan lalu, indeks S&P 500 terkoreksi hampir 2 persen dan Nasdaq Composite anjlok hingga 4,6 persen.

Sejumlah emiten teknologi raksasa seperti Nvidia dan Alphabet harus rela kehilangan nilai pasar mereka hingga lebih dari 8 persen. Penurunan harga yang cukup tajam juga dialami oleh korporasi besar lainnya seperti Meta Platforms, Apple, Amazon, dan SpaceX.

Sebaliknya, indeks Dow Jones sempat terapresiasi sebesar 0,6 persen pada pekan lalu berkat sokongan kinerja positif dari saham Merck serta Johnson & Johnson. Kendati demikian, para pemodal saat ini mengindikasikan adanya titik jenuh terhadap tren investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, turut mengutarakan pandangannya mengenai situasi pasar yang berkembang belakangan ini. "Para investor tampaknya mengalami kelelahan terhadap AI," tulis Ed Yardeni, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dirinya pun menyoroti munculnya keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai efektivitas serta imbal hasil dari besarnya dana investasi yang digelontorkan oleh raksasa teknologi untuk menyokong infrastruktur AI.

"Mereka mempertanyakan apakah pengeluaran besar-besaran perusahaan-perusahaan raksasa teknologi (hyperscalers) untuk infrastruktur AI akan pernah membuahkan hasil. Mereka khawatir bahwa teknologi baru akan dengan cepat membuat teknologi yang ada saat ini menjadi usang dalam proses yang dikenal sebagai ‘penghancuran kreatif,” ia menambahkan, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hingga periode akhir Juni, indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 3 persen dan Nasdaq merosot di atas 6 persen. Kebalikannya, indeks Dow Jones justru mampu membukukan pertumbuhan positif lebih dari 1 persen selama bulan berjalan.

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyudahi perdagangan pada hari Jumat (26/6/2026) dengan bertengger di zona merah. Tren pelemahan ini seirama dengan koreksi massal yang melanda bursa saham Asia akibat adanya tekanan berat pada sektor teknologi global.

IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 102,91 poin atau jatuh 1,72 persen ke posisi 5.896,13. Senada dengan IHSG, indeks LQ45 ikut tergelincir sejauh 4,03 poin atau 0,69 persen menuju level 583,72.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjabarkan faktor utama di balik merosotnya posisi IHSG tersebut. "IHSG ditutup melemah terimbas koreksi indeks bursa global," ujar Ratna, dikutip dari Antara, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Gelombang tekanan ini bermula dari aksi lepas saham massal pada sektor teknologi global yang didasari oleh kecemasan atas tingginya ongkos operasional dalam membangun infrastruktur kecerdasan buatan. Imbas negatif ini kemudian menjalar hingga merontokkan harga komoditas logam serta saham-saham yang berkaitan erat di dalamnya.

"Tekanan pada saham sektor teknologi ini memicu koreksi pada harga komoditas logam, yang mendorong koreksi saham terkait," ujar Ratna, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Meskipun pada awal perdagangan IHSG sempat dibuka menguat, kuatnya tekanan jual yang terjadi sepanjang hari akhirnya memaksa indeks domestik ini terus bertahan di area negatif sampai bel penutupan dibunyikan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua