Breaking

Tekanan Dolar AS Picu Rupiah Melemah ke Rp 17.977 Pagi Ini

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
Tekanan Dolar AS Picu Rupiah Melemah ke Rp 17.977 Pagi Ini
ILUSTRASI, Rupiah melemah ke Rp 17.977 per dolar AS pada pembukaan pasar Kamis pagi. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah (IDR) kembali mencatatkan penurunan performa terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan transaksi hari Kamis (2/7/2026).

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.05 WIB di pasar spot exchange, kurs mata uang Garuda hari ini memulai transaksi dengan mengalami penyusutan sebesar 25 poin (0,14%) ke arah posisi Rp 17.977 per dolar AS. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau mengalami penurunan tipis sebesar 0,04 poin (0,04%) ke arah posisi 101.354.

Pada penutupan transaksi sebelumnya, nilai tukar rupiah pada hari Rabu (1/7/2026) mengakhiri perdagangan dengan mencatatkan depresiasi 43 poin ke level Rp 17.950 per dolar AS.

Mengutip informasi dari Yahoo! Finance, Kamis (2/7/2026) mata uang greenback sempat bergerak mendatar pada hari Kamis karena para pelaku pasar sedang menunggu publikasi data penting non-farm payrolls AS.

Indeks dolar AS pada periode sebelumnya terkoreksi 0,02% ke posisi 101,38. Pada saat yang sama, mata uang euro diperdagangkan pada level $1,138 terhadap dolar AS dan poundsterling Inggris mengalami kenaikan terbatas sebesar 0,06% menuju$ 1,3279 per dolar AS.

Sementara itu, mata uang yen Jepang mengalami kejatuhan ke level 162,84 yen terhadap dolar AS, yang menjadi level terendah dalam periode 40 tahun terakhir serta berada jauh di atas ambang batas yang biasanya mendorong pemerintah Jepang untuk melakukan langkah intervensi. Pada awal perdagangan, posisi yen tidak mengalami banyak fluktuasi di level 162,50 per dolar.

Mata uang dolar Australia mengalami pelemahan 0,09% terhadap dolar AS menjadi $0,6885, sementara dolar Selandia Baru ditransaksikan pada level$ 0,5672 per dolar AS.

Mata uang dolar AS menunjukkan pergerakan yang stabil setelah merespons pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, sebagaimana dilansir dari berita sumber bahwa "proyeksi inflasi serta risiko harga sudah menyusut dalam beberapa pekan belakangan, di mana Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP memaparkan bahwa serapan tenaga kerja swasta di AS bertumbuh namun masih di bawah estimasi."

Mata uang dolar AS sendiri memperoleh sentimen positif dari semakin kuatnya prediksi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan The Fed pada tahun ini. Keadaan bursa tenaga kerja yang kokoh ikut menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, setelah penambahan lapangan kerja berhasil berada di atas estimasi selama tiga bulan secara berturut-turut.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor penopang utama bagi penguatan dolar AS, selain dorongan dari tingginya pemanfaatan teknologi AI yang turut memicu derasnya arus modal masuk ke instrumen investasi di AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua