Rating Indonesia BBB dari S&P Perkuat Kepercayaan Investor Global

ILUSTRASI, S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 14 Juli 2026 | 12:07:24 WIB

JAKARTA – Langkah Standard & Poor's (S&P) Global Ratings yang tetap menempatkan peringkat utang Indonesia pada posisi BBB disertai prospek stabil dianggap mampu memperkokoh keyakinan para pemodal terhadap masa depan perekonomian domestik. Di tengah munculnya beban anggaran, fluktuasi kurs mata uang, serta ketidakpastian situasi dunia, kepastian ini menjadi indikator bahwa pondasi ekonomi tanah air dinilai tetap kokoh.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, berpandangan bahwa ketetapan rating dari S&P Global Ratings ini merupakan petunjuk krusial bagi kondisi ekonomi serta bursa saham di dalam negeri. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Di tengah tekanan fiskal, volatilitas nilai tukar, dan dinamika global yang tidak ringan, keputusan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga," ujarnya dalam pernyataan tertulis yang dikutip, Selasa (14/7).

Ia berpendapat, S&P melihat masa depan Indonesia yang kokoh ini didorong oleh prediksi pulihnya pemasukan kas negara, membaiknya kinerja ekspor berkat peningkatan harga komoditas, serta keteguhan pemerintah dalam membatasi defisit anggaran di bawah 3% dari PDB. 

Situasi ini membuat pasar internasional tetap mempercayai Indonesia sepanjang pengelolaan anggaran negara dijalankan secara terencana dan konsisten.

David menambahkan bahwa ketetapan S&P ini membawa pengaruh baik bagi bursa saham lantaran menstabilkan penilaian risiko Indonesia di pandangan investor global. 

Kendati begitu, dia mengimbau agar keyakinan ini dirawat lewat penyampaian kebijakan yang transparan, kepatuhan anggaran yang terpercaya, serta kontinuitas eksekusi aturan di lapangan. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Indonesia masih dipercaya, tetapi kepercayaan itu harus terus dibuktikan. Pasar modal masih memiliki prospek, tetapi prospek itu harus diperkuat dengan kepastian kebijakan dan kualitas komunikasi yang lebih baik," katanya.

Saran serupa datang dari Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, yang menilai bahwa penilaian S&P menggambarkan adanya optimisme terhadap restrukturisasi yang sedang dijalankan oleh pemerintah demi memperkokoh ketahanan anggaran, salah satunya lewat pendirian Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Dalam pandangan Fithra, S&P melihat DSI berpeluang memicu pos pendapatan baru bagi negara sekalian memperkuat pertahanan anggaran serta lini eksternal melalui tata kelola ekspor komoditas yang lebih optimal. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "DSI tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai mekanisme konsolidasi ekspor, melainkan juga sebagai mesin penggerak penerimaan negara yang berpotensi memperluas basis fiskal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kenaikan tarif pajak maupun penambahan utang publik," ujar Fithra.

Dirinya menjabarkan, jika dijalankan dengan terbuka, bertanggung jawab, serta berdaya guna, DSI bisa mengatrol pendapatan negara bukan pajak, mempertebal cadangan devisa, menaikkan daya tahan lini luar negeri, sekaligus melonggarkan ruang anggaran untuk mendanai berbagai agenda pembangunan.

Walau demikian, Fithra menggarisbawahi bahwa efektivitas instrumen tersebut pada akhirnya bakal bertumpu pada realisasi konkret di lapangan. 

Oleh sebab itu, manajemen yang kokoh, keterbukaan operasional, tanggung jawab instansi, serta sinergi bersama para pelaku bisnis menjadi aspek krusial supaya DSI dapat mendongkrak fundamental kelayakan kredit Indonesia.

Reporter: Gemilang Ramadhan