Anak Usaha KIJA Perkuat Daya Tarik Kota Jababeka Bagi Investor Jepang

ILUSTRASI, PT Graha Buana Cikarang memperkuat daya tarik Kota Jababeka bagi investor Jepang melalui berbagai proyek strategis. (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:47:55 WIB

JAKARTA – PT Graha Buana Cikarang, yang merupakan anak usaha dari PT Jababeka Tbk. (KIJA), terus meningkatkan daya pikat kawasan Kota Jababeka untuk para investor asal Jepang. Walaupun arus investasi di bidang manufaktur ke kawasan industri tersebut saat ini masih didominasi oleh pelaku usaha dari China, Jababeka telah menyiapkan beragam langkah strategis untuk memperluas kemitraan dengan pebisnis dari Negeri Sakura. Strategi ini mencakup pengerjaan proyek properti hingga penguatan ekosistem wilayah melalui pelaksanaan Sakura Matsuri 2026.

Direktur PT Graha Buana Cikarang, Ivonne Anggraini, mengungkapkan bahwa perusahaan masih membuka kesempatan untuk menjalin kolaborasi baru dengan pihak pengembang maupun investor Jepang. 

Ia menyebutkan bahwa kerja sama antara Jababeka dan mitra dari Jepang sejauh ini telah berjalan di beberapa proyek, salah satunya adalah pembangunan area tempat tinggal bersama Mitsui.

"Kami sudah berjalan kerja sama dengan investor Jepang. Untuk perumahan kami kerja sama dengan Mitsui," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Selasa (14/7/2026).

Ivonne mengimbuhkan bahwa pihak Jababeka juga memiliki harapan untuk memperlebar jaringan dengan korporasi-korporasi Jepang melalui ajang Sakura Matsuri 2026.

"Tentunya kami ingin ada kerja sama baru dengan investor Jepang. Oleh karena itu kami mengadakan Sakura Matsuri supaya lebih luas jangkauannya ke orang-orang Jepang, CEO-CEO perusahaan, jadi lebih mengenal Jababeka," imbuhnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, Ivonne tidak memungkiri bahwa sampai saat ini penanam modal asing yang paling agresif masuk ke kawasan industri Jababeka masih didominasi oleh China.

"Sementara ini China, masih tetap mendominasi," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Demi memperkuat daya pikat kawasannya, Jababeka tidak sekadar bertumpu pada pembangunan area industri yang baru, tetapi juga menciptakan ekosistem yang dapat menyokong kehidupan masyarakat internasional. 

Sebagai bagian dari langkah mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang, Jababeka berkolaborasi dengan KAJI untuk menyelenggarakan kembali Sakura Matsuri 2026 pada tanggal 25–26 Juli 2026 di Hollywood Junction, Kota Jababeka.

Pelaksanaan festival ini diproyeksikan memberikan impresi positif jangka panjang bagi iklim investasi. 

Melalui semakin populernya Kota Jababeka sebagai area yang akomodatif bagi masyarakat internasional, khususnya warga Jepang, citra wilayah ini diharapkan semakin meningkat di mata para pelaku usaha serta investor.

Festival kebudayaan tahunan ini bukan sekadar menjadi panggung hiburan, melainkan bagian dari perwujudan dalam merancang ekosistem kota industri yang bersahabat bagi komunitas global, terutama Jepang. 

Ivonne menyampaikan bahwa Kota Jababeka kini telah menjadi basis bagi lebih dari 2.000 korporasi nasional dan multinasional, di mana komunitas Jepang menjadi salah satu kelompok terbesar di dalamnya. 

Eksistensi komunitas Jepang tersebut tidak hanya memberikan kontribusi bagi roda ekonomi dan industri, namun juga memperkaya aspek sosial serta kebudayaan warga setempat.

Ia memandang bahwa pergelaran Sakura Matsuri merupakan wujud komitmen Jababeka dalam menghadirkan sebuah kawasan terpadu yang tidak hanya bertumpu pada sektor industri, melainkan juga menyentuh sektor pendidikan, pariwisata, kebudayaan, hingga pematangan sumber daya manusia.

Festival tersebut nantinya akan menyuguhkan beraneka ragam pementasan budaya Jepang, kompetisi cosplay, bazar makanan khas Indonesia-Jepang, pemilihan Miss Sakura, workshop, talkshow seputar edukasi dan karier, hingga peluang untuk mendapatkan beasiswa kursus bahasa Jepang. 

Kemeriahan acara ini juga akan disemarakkan oleh penampilan dari JKT48 serta sederet musisi asal Jepang seperti RyuBand, Koki Ota, Shun, Hiro Umeda, serta bermacam-macam komunitas seni budaya Jepang.

Reporter: Gemilang Ramadhan