Pakar Ungkap Level Kunci Harga Emas, Potensi Koreksi atau Lanjut Reli

Ilustrasi emas (sumber foto : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 23 Juli 2026 | 20:06:20 WIB

JAKARTA – Pergerakan harga emas dunia berada di fase penting pada sesi perdagangan Kamis (23/7/2026). Pakar memperkirakan emas berpeluang mengalami koreksi singkat akibat gagal menembus batas resistance kunci, walau peluang penguatan jangka menengah tetap ada.

Emas terpantau naik 0,04% ke posisi US$ 4.131,67 per ons troi saat laporan disusun. Secara year to date (ytd), nilainya telah susut 4,49%, tetapi secara tahunan (year on year/yoy) naik 20,43%.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofi menilai minat beli mulai mengendur sehingga pasar berpotensi membentuk koreksi sementara sebelum menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Ia menyampaikan bahwa secara teknikal grafik H4 menunjukkan harga emas masih dalam tren bullish. Namun, pergerakan harga terus tertahan pada kisaran US$ 4.135-4.148 per ons troi sebagai batas resistance utama.

"Kegagalan menembus area tersebut menunjukkan minat beli mulai melemah setelah reli yang cukup kuat. Kondisi ini membuka peluang terjadinya koreksi jangka pendek sebagai bagian dari penyeimbangan pasar," ujar Geraldo dalam risetnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Geraldo memperkirakan kisaran US$ 4.082-4.063 per ons troy menjadi titik paling menentukan bagi pergerakan emas berikutnya.

Jika harga merosot ke rentang tersebut dan muncul sinyal pembalikan atau swing low, hal itu menandakan tekanan jual mereda serta pembeli kembali memegang kendali.

Oleh sebab itu, pelaku pasar diimbau tidak terburu-buru bertransaksi di dekat area resistance. "Menunggu konfirmasi terbentuknya pola bullish di area support akan memberikan rasio risiko dan potensi keuntungan yang lebih baik," pasar Geraldo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melihat indikator teknikal, Geraldo menjelaskan stochastic mulai meluncur turun dari zona overbought yang mengindikasikan momentum beli melemah. Kendati belum mengubah tren utama menjadi bearish, situasi tersebut meningkatkan peluang koreksi jangka pendek.

“Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas level US$ 4.148 per ons troi, skenario koreksi menuju area support masih menjadi proyeksi yang paling dominan,” jelas Geraldo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping faktor teknikal, pergerakan emas turut dipengaruhi oleh sentimen fundamental terkait ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Para pemodal kini memilih menanti rilis data ekonomi AS dan rincian pernyataan pejabat The Fed guna membaca arah suku bunga AC.

“Apabila data ekonomi AS tetap solid, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menopang penguatan dolar AS dan membatasi kenaikan harga emas,” tegas Geraldo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebaliknya, jika angka inflasi melandai atau ekonomi melemah, harapan pelonggaran kebijakan dapat memicu kembali minat pada logam mulia.

Menurutnya, berkurangnya tensi geopolitik belakangan ini menurunkan daya tarik aset safe haven sehingga memicu aksi ambil untung (profit taking). Namun, Geraldo mengingatkan bahwa prospek jangka menengah emas tetap positif selama sanggup bertahan di atas kisaran US$ 4.082-4.063 per ons troi.

“Jika dari level tersebut muncul sinyal pembalikan arah yang didukung peningkatan tekanan beli, harga emas diperkirakan berpeluang kembali melanjutkan tren bullish dalam beberapa sesi perdagangan mendatang,” tutup Geraldo sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar