Rupiah Berpotensi Menuju Rp 18.000 per Dolar AS Jelang Rilis Data AS

Ilustrasi Rupiah (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:13:50 WIB

JAKARTA – Pergerakan mata uang rupiah diprediksi bakal tetap fluktuatif tetapi cenderung terkonsolidasi menjelang akhir pekan. Kondisi ini terjadi lantaran para pelaku pasar tengah menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan perkembangan geopolitik dunia.

Berdasarkan pencatatan data Bloomberg pada Kamis (13/8/2026), mata uang Garuda ditutup stagnan di level Rp 17.877 per dolar AS.

Pada saat yang sama, data Trading Economics memperlihatkan rupiah berada pada posisi Rp 17.869,2 per dolar AS atau melemah 0,04%, sementara kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia terkoreksi 0,03% ke level Rp 17.882 per dolar AS jika dibandingkan posisi hari sebelumnya di angka Rp 17.876 per dolar AS.

Pendiri Traderindo.com sekaligus pengamat mata uang, Wahyu Laksono, menerangkan bahwa laju rupiah pada perdagangan Kamis (13/8/2026) dipengaruhi gabungan faktor eksternal dan kondisi fundamental dalam negeri.

Dari sisi mancanegara, rilis data inflasi (CPI) AS yang sesuai estimasi belum sanggup menekan dolar AS secara tajam sebab pelaku pasar memilih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Bukan hanya itu, ancaman memanasnya geopolitik AS-Iran di Selat Hormuz beserta penyesuaian portofolio lantaran rebalancing indeks MSCI turut membebani rupiah.

Dari kawasan domestik, pergerakan kurs tertahan oleh indikator konsumsi masyarakat yang moderat, yang ditunjukkan oleh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli yang melambat ke posisi 116,8 serta pertumbuhan penjualan eceran yang cenderung terbatas.

Menghadapi perdagangan Jumat (14/8/2026), arah mata uang rupiah bakal sangat bergantung pada hasil rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) serta klaim pengangguran mingguan (Initial Jobless Claims) AS.

Apabila indikator tersebut mengindikasikan inflasi tingkat produsen yang melandai dan terjadi peningkatan klaim pengangguran, proyeksi penurunan suku bunga The Fed akan makin kuat sehingga dapat melemahkan dolar AS.

Di lain pihak, upaya stabilisasi dari Bank Indonesia (BI) melalui intervensi di pasar spot, DNDF, hingga instrumen SRBI diproyeksikan dapat menjadi penahan gejolak mata uang.

"Kebijakan stabilisasi pasar dari Bank Indonesia, baik melalui intervensi langsung di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), akan menjadi benteng penahan agar volatilitas rupiah tetap terjaga di bawah level psikologis Rp 18.000 per dolar AS," ungkap Wahyu sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mempertimbangkan pelbagai faktor pendorong tersebut, Wahyu mengestimasi rupiah akan bergerak dalam fase konsolidasi pada sesi perdagangan esok hari.

"Untuk perdagangan besok, Jumat (14/8/2026), nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun cenderung berkonsolidasi dalam kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS," tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar