IDXINFRA Turun 28,18 Persen, Analis Pilih TLKM hingga PGEO

Ilustrasi Indeks IDXINFRA turun 28,18 persen sejak awal tahun hingga 21 Agustus 2026. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:08:58 WIB

JAKARTA – Kinerja emiten infrastruktur dinilai masih prospektif di tengah era suku bunga tinggi. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Di tengah keputusan BI menahan suku bunga, saham emiten infrastruktur terpantau melemah.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, penurunan kinerja emiten infrastruktur dipengaruhi sejumlah faktor.

Faktor tersebut antara lain beban utang yang tinggi untuk membiayai proyek, terutama dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, ketidakpastian situasi dan kondisi turut menekan sejumlah saham di berbagai sektor.

“Mulai dari perang, pelemahan rupiah, stabilitas politik, hingga kebijakan fiskal dalam negeri yang selalu menjadi perhatian,” ujarnya, Minggu (23/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Per Jumat (21/8/2026), indeks IDXINFRA telah turun 28,18% sejak awal tahun atau year to date (YTD). Sebagai pembanding, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 24,53% YTD.

Setidaknya terdapat 10 emiten dengan bobot terbesar di sektor tersebut, di antaranya ISAT, EXCL, TLKM, BREN, CDIA, TOWR, dan MORA.

Saham TLKM turun 25% YTD, BREN melemah 64,33% YTD, CDIA terkoreksi 57,49% YTD, TOWR turun 25,81% YTD, sedangkan EXCL melemah 24,27% YTD.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan penurunan IDXINFRA lebih dipengaruhi faktor earnings, leverage, capital expenditure (capex), foreign outflow, dan sentimen pasar yang masih selektif.

“Jadi saat ini suku bunga bukan satu-satunya perhatian. Tekanan di saham-saham besar, seperti TLKM, juga ikut membebani indeks,” katanya, Minggu (23/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan penurunan IDXINFRA tidak terlepas dari aksi profit taking yang dilakukan pelaku pasar di sektor tersebut.

Saham seperti BREN merupakan emiten dengan market cap terbesar di sektor ini. Selain itu, CDIA dan MORA juga memiliki market cap besar dan mencatatkan kenaikan signifikan sebelum 2026.

“Sehingga sesuatu yang wajar jika secara YTD mencatatkan penurunan yang signifikan,” ujarnya, Jumat (21/8/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penurunan tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, inflasi, kenaikan suku bunga, hingga kebijakan MSCI.

Menurut Imam, keputusan BI mempertahankan suku bunga dalam RDG pekan ini tidak serta-merta menjadi katalis yang membuat sektor infrastruktur langsung berbalik positif.

“Namun, jika melihat pergerakan dari price action IDXINFRA, juga mulai menunjukkan adanya potensi trend reversal setelah terjadi breakout pada pola ascending triangle pada 18 Agustus 2026 lalu,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nico melihat kinerja TLKM dan ISAT di sektor infrastruktur masih prospektif hingga akhir 2026. Kedua emiten tersebut mengandalkan dominasi pendapatan berulang atau recurring revenue dalam bentuk rupiah.

Investor disarankan mencermati saham EXCL dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 3.270 per saham dan Rp 3.440 per saham.

Elandry menilai subsektor telekomunikasi dan digital infrastructure memiliki kinerja paling menarik hingga akhir 2026, seiring dengan pertumbuhan trafik data, 5G, cloud, dan AI.

Saham ISAT, EXCL, dan TLKM dapat menjadi pilihan yang lebih defensif. Katalis utamanya mencakup pertumbuhan pendapatan, efisiensi capex, konsolidasi industri, dan peningkatan permintaan data.

“TLKM lebih bisa menjadi alternatif bagi investor yang lebih mengutamakan fundamental dan dividend yield,” paparnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Imam menilai emiten sektor infrastruktur cenderung defensif karena memiliki fokus bisnis utilitas atau menyediakan produk yang digunakan banyak orang dalam aktivitas sehari-hari.

Artinya, emiten-emiten tersebut cenderung memiliki earning power yang cukup kuat.

Kinerja emiten infrastruktur berpotensi membaik apabila kondisi makro ke depan, termasuk kebijakan bank sentral seperti BI dan The Fed, menjadi lebih dovish.

“Atau mungkin ada aksi korporasi yang organik dan anorganik. Perlu menjadi perhatian juga valuasi sahamnya,” paparnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Imam juga merekomendasikan beli saham PGEO dengan target harga terdekat Rp 1.140 per saham dan target harga berikutnya Rp 1.215 per saham.

Reporter: Ibtihal