Harga CPO Naik Ke Level RM 4.894 Per Ton Didorong Penguatan El Nino

Ilustrasi minyak kelapa sawit (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:41:29 WIB

JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) acuan global mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (28/8/2026) akhir pekan ini di tengah stok yang sedang meningkat, meskipun terdapat sedikit tekanan dari fenomena El Niño.

Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO acuan Malaysia untuk kontrak yang berakhir November 2026 ditutup menguat 1,62% di level RM 4.894 per ton pada perdagangan Jumat lalu. Meski demikian, sepanjang pekan ini harga CPO mengalami koreksi sebesar 2,47% secara point-to-point.

Kenaikan harga CPO terjadi di saat persediaan Malaysia meningkat, walaupun pasar melihat pasokan jangka pendek berisiko bergeser ke kondisi yang lebih ketat pada 2027.

Penguatan kondisi El Niño, kebijakan mandat biodiesel B50 di Indonesia, serta gangguan pada minyak nabati pesaing mendorong para analis menaikkan proyeksi harga mereka.

CPO tercatat telah melonjak lebih dari 15% sejak awal tahun, sedangkan rata-rata harga CPO Malaysia bulan lalu mencapai RM 4.493 per ton atau naik 9,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Selama tujuh bulan pertama 2026, rata-rata harga CPO berada di angka RM 4.388 per ton.

Sejumlah pelaku industri memperkirakan adanya potensi kenaikan lebih lanjut. SD Guthrie sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia memproyeksikan CPO akan diperdagangkan antara RM 4.600 hingga RM 5.000 per ton pada sisa tahun ini, serta berpeluang menembus RM 5.200 per ton pada kuartal pertama 2027 apabila kondisi El Niño terus berkembang.

"Sebelumnya, pasar diperdagangkan berdasarkan ekspektasi [tentang dampak El Niño terhadap tanaman] dan sekarang pasar melihat beberapa tanda nyata. Banyak pihak setuju bahwa harga CPO akan lebih tinggi, terutama dengan potensi penurunan produksi hingga 2027," kata Ivy Ng Lee Fang, kepala riset Malaysia dan analis perkebunan regional CIMB Securities sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sejumlah faktor menjaga harga CPO tetap stabil meskipun terjadi penumpukan stok. Permintaan tetap kuat seiring daya saing minyak sawit yang semakin meningkat dibandingkan minyak nabati lainnya.

India sebagai importir minyak nabati terbesar di dunia mendongkrak pembelian pada Juli lalu dengan lonjakan impor minyak sawit sebesar 50% dari bulan sebelumnya menjadi sekitar 733.000 ton, yang merupakan level tertinggi dalam lima bulan, karena para pengolah minyak menambah pasokan menjelang musim perayaan besar di negara tersebut dari Agustus hingga November 2026.

"El Niño diperkirakan akan menguat, dengan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) memperkirakan probabilitas 81% terjadinya El Niño yang sangat kuat selama Oktober hingga Desember 2026. Kondisi cuaca El Niño yang lebih kuat dapat mengurangi hasil dan produksi kelapa sawit di Asia Tenggara dengan jeda waktu, sehingga menimbulkan risiko penurunan pasokan yang lebih besar mulai 2027 dan seterusnya," terang Ng sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Fenomena cuaca ini diproyeksikan membawa cuaca yang lebih panas dan kering ke kawasan Asia Tenggara. Namun, pengaruhnya pada kelapa sawit terbilang tidak biasa karena kekeringan tidak selalu langsung menurunkan tingkat produksi.

Stres pada pohon kelapa sawit dapat memengaruhi pembentukan buah, sehingga dampak terbesar terhadap hasil panen baru terlihat lebih dari setahun setelah peristiwa cuaca tersebut terjadi.

"Departemen Pertanian AS telah memangkas perkiraan produksi minyak sawit Indonesia untuk tahun 2026/27 menjadi 47,2 juta ton di tengah ekspektasi kondisi kekeringan," jelas Ng sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah turut mendukung CPO dengan membuat biodiesel berbasis sawit menjadi lebih menarik secara ekonomi, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan dari Indonesia.

Reporter: Akbar