Nikkei dan Kospi Anjlok, Minyak Naik Imbas Konflik
JAKARTA – Bursa Asia bergerak melemah pada perdagangan pagi Senin (31 Agustus 2026). Pukul 08.21 WIB, indeks Nikkei 225 turun 1,98 persen ke 65.092,29 dan Hang Seng melemah 0,64 persen ke 25.420,63.
Indeks Taiex terkoreksi 1,34 persen ke 45.711,48, sementara Kospi jatuh 2,53 persen ke 6.616,97. Sebaliknya, ASX 200 naik 0,33 persen ke 9.122,6 dan FTSE Straits Times menguat 0,34 persen ke 5.719,46. FTSE Malay KLCI libur memperingati Hari Kemerdekaan.
Pelemahan pasar Asia dipicu konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas, mendorong harga minyak naik dan imbal hasil obligasi tetap tinggi.
Harga minyak Brent dan WTI naik lebih dari 1 persen setelah pasukan AS menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30 Agustus 2026). Iran kemudian membalas dengan menyerang pasukan AS di Yordania, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Risiko inflasi meningkat, membuat pasar obligasi waspada. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan pada Jumat bahwa bank sentral masih memiliki tugas mengendalikan inflasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pasar merespons dengan menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga September menjadi 57 persen, mendorong imbal hasil Treasury jangka pendek naik tajam dan kurva imbal hasil mendatar.
Faktor penentu kebijakan suku bunga adalah laporan ketenagakerjaan Agustus yang akan dirilis Jumat dan data harga konsumen pada 11 September.
Analis memprediksi penambahan 58.000 lapangan kerja setelah penurunan 23.000 pada Juli, dengan tingkat pengangguran tetap 4,1 persen. Hasil yang jauh lebih lemah dibutuhkan untuk mengurangi risiko kenaikan suku bunga bulan September.