Strategi Medco Energi Hadapi Fluktuasi Harga Minyak Dunia

Ilustrasi minyak dunia (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 09 September 2026 | 23:13:20 WIB

JAKARTA – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) merinci strategi "kunci ganda" yang disiapkan untuk menekan dampak gejolak harga minyak dunia terhadap kinerja keuangan. Kondisi fluktuasi tajam ini tidak lepas dari dinamika konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Direktur yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), Amri Siahaan memaparkan bahwa langkah awal berfokus pada penyeimbangan komposisi penjualan migas antara kontrak harga pasar dan harga tetap.

“Bauran harga produksi kami cukup seimbang, sekitar 55% terekspos pada harga pasar,” ujar Amri dalam paparan publik live, Rabu (9/9/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Porsi tersebut utamanya mencakup kontrak ekspor yang dipengaruhi langsung oleh pergerakan harga global. Sementara 45% sisanya dialokasikan dengan skema harga tetap (fixed price) untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

“Secara natural itu terjadi seperti natural hedging,” katanya, menjelaskan bahwa kombinasi dua skema harga ini membuat perusahaan bisa menghadapi eksposur harga pasar secara lebih seimbang tanpa perlu instrumen lindung nilai finansial yang rumit sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah kedua yang dijelaskan Amri berkaitan dengan mekanisme pemulihan biaya operasi melalui sistem bagi hasil migas domestik, yang membantu menahan imbas volatilitas harga sebelum pembagian hasil.

Ia menguraikan, apabila harga minyak melemah dalam durasi panjang, perseroan memiliki fleksibilitas untuk memangkas beban produksi serta menyesuaikan ritme eksplorasi. Strategi ini sejalan dengan pencapaian realisasi belanja modal (capex) Medco di kuartal I 2026.

Alokasi capex sektor minyak dan gas tahun 2026 yang disiapkan sebesar US$ 415 juta atau Rp 7,2 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.560 per dolar AS) baru terserap US$ 88 juta atau Rp 1,5 triliun hingga kuartal I, yaitu setara 21% dari target. Hal serupa terjadi pada capex sektor kelistrikan yang baru terealisasi US$ 2 juta dari target US$ 15 juta tahun ini, atau sekitar Rp 35 miliar dari total Rp 263,3 miliar.

Di sisi lain, rekam jejak perusahaan mencatat peningkatan biaya tunai produksi migas (cash cost) dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut beranjak dari US$ 6,8 atau Rp 119.374 per barel setara minyak pada 2022 menjadi US$ 8,3 atau Rp 145.707 pada 2023, kemudian bergerak ke US$ 8,2 atau Rp 143.951 pada 2024, lalu naik ke US$ 8,6 atau Rp 150.973, hingga menyentuh US$ 9,0 atau Rp 157.995 per boe di kuartal I 2026. Kendati demikian, angka ini berada di bawah batas maksimum pemanduan perusahaan sebesar US$ 10 atau Rp 175.550 per boe.

Terkait sasaran pengembalian modal, perseroan menargetkan panduan return on equity (ROE) di atas 15%. Walaupun pencapaian kuartal I baru menyentuh 7%, peluang peningkatan masih terbuka seiring mulai aktifnya proyek pengembangan Senoro Phase 2A dan Bualuang Renewal Plan pada kuartal kedua.

“Kami akan menyesuaikan kegiatan eksplorasi jika harga minyak rendah berlanjut,” tutup Amri, menegaskan bahwa fleksibilitas operasional tetap menjadi lini pertahanan terakhir perusahaan jika skenario harga terburuk benar-benar terjadi sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Akbar