INSIDERINDONESIA.COM — Shuhei Yoshida dan Adam Boyes kembali memperagakan adegan berbagi cakram PS4 yang legendaris di Tokyo Game Show 2026. Kali ini tidak ada cakram yang berpindah tangan, seiring keputusan Sony menghentikan produksi cakram game.
Perbedaan utamanya terletak pada properti yang mereka gunakan. Jika dulu sebuah cakram berpindah dari tangan ke tangan, kali ini tidak ada cakram yang bisa dibagikan ke teman.
Dari Video 22 Detik Menjadi Simbol Perlawanan
Video asli yang dirilis Sony memperlihatkan betapa mudahnya pemilik PS4 meminjamkan game fisik ke rekannya. Cara itu kontras dengan rencana awal Xbox One yang mewajibkan pemeriksaan DRM berkala pada setiap game.
Hanya butuh 22 detik bagi Yoshida dan Boyes untuk menunjukkan simulasi berbagi game tersebut. Hasilnya, Sony meraup keuntungan citra publik yang besar dibandingkan Microsoft saat itu.
Video itu dikenal sebagai materi yang disusun secara mendadak. Meski demikian, pesannya tersampaikan dengan tajam ke publik pengguna konsol.
Jejak Karier Keduanya Setelah Meninggalkan Sony
Boyes meninggalkan Sony pada 2016. Yoshida menyebut dirinya "dipecat" dari jabatannya sebagai presiden SIE worldwide pada 2019, lalu benar-benar hengkang pada 2025 setelah beberapa tahun memimpin Independent Developer Initiative Sony.
Selama periode itu, lanskap industri game berubah drastis. Sony beberapa bulan lalu mengumumkan akan menghentikan produksi cakram game, keputusan yang menuai kritik dari pengguna maupun mitra pihak ketiga.
Alasan Sony adalah dominasi penjualan digital yang dianggap sudah cukup untuk beralih ke masa depan serba digital. Langkah itu juga dinilai menguntungkan bisnis perusahaan dari sisi efisiensi.
PlayStation Store Jadi Satu-satunya Kanal
Dengan menjadikan PlayStation Store sebagai satu-satunya kanal penjualan, Sony bisa meraup lebih banyak pendapatan dari penjualan pihak pertama. Biaya ritel untuk game fisik pun bisa dipangkas.
Namun, sejumlah pihak khawatir langkah ini justru menjadi kemunduran dibandingkan platform seperti Steam. PlayStation Store umumnya tidak memberikan pengembalian dana untuk game yang sudah dibeli dan minim fitur pendukung transisi.
Persoalan lain yang mengemuka adalah status pembelian. Pengguna tidak membeli game secara utuh dari toko digital, melainkan hanya lisensi untuk memainkannya.
Sony saat ini tengah berargumen dalam gugatan class action bahwa pihaknya tidak menyesatkan konsumen soal pembelian lisensi game digital. Sony menyebut tidak masuk akal jika konsumen mengira mereka memiliki produk digital tersebut.
Sebagai pembanding, program disc-to-digital milik Microsoft mendapat respons positif. Program itu memungkinkan pemilik Xbox membuka lisensi digital dari game fisik mereka, meski tidak semua game bisa ikut karena sebagian penerbit belum bergabung.