Graha Buana Cikarang Bidik Marketing Sales Rp1,8 Triliun
JAKARTA – PT Jababeka Tbk. (KIJA) melalui anak perusahaannya, PT Graha Buana Cikarang, menyasar target marketing sales sebesar Rp1,8 triliun melalui deretan proyek pergudangan dan hunian.
Demi mengejar sasaran tersebut, Direktur PT Graha Buana Cikarang Ivonne Anggraini mengandalkan penjualan lahan industri, pembangunan proyek gudang multiguna Jababeka Bizpark, serta perluasan hunian baru di Cikarang.
Ia menambahkan bahwa saat ini perusahaan sedang menggarap Jababeka IX, yang menjadi tahap pamungkas dari pembangunan kawasan industri Jababeka.
Lokasi ini nantinya bakal dikhususkan untuk memenuhi keperluan sektor manufaktur, pergudangan, hingga industri pendukung lainnya.
"Kami saat ini sedang mengembangkan Jababeka IX. Itu merupakan fase terakhir kawasan industri kami," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Bukan hanya sektor kawasan industri, perusahaan pun bertumpu pada proyek Jababeka BizPark yang berupa bangunan gudang multiguna.
Bangunan ini disiapkan untuk memenuhi bermacam keperluan operasional, mulai dari logistik, studio live commerce, kantor, tempat makan, hingga ruang usaha lainnya.
Menurut penjelasannya, konsep ini diciptakan demi merespons pergeseran tren bisnis seiring pesatnya perkembangan e-commerce serta live shopping.
Jika ditinjau dari aspek pemasaran, Ivonne memaparkan bahwa proyek BizPark memperoleh sambutan yang baik. Terhitung semenjak resmi diperkenalkan, kurang lebih 270 unit telah habis terjual dengan rentang harga dari Rp1,65 miliar sampai Rp2,5 miliar per unit.
Kendati nilai tukar rupiah terpantau masih fluktuatif, Nancy berpendapat situasi ini belum memberikan efek yang berarti bagi tingkat permintaan properti industri di wilayah Jababeka.
"Memang secara umum orang lebih berhati-hati mengeluarkan uang ketika rupiah melemah. Tetapi perusahaan yang memang membutuhkan ekspansi tetap melakukan pembelian. Sampai saat ini penjualan masih relatif stabil," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menguraikan lebih lanjut, lini bisnis kawasan industri Jababeka turut disokong oleh pendapatan berulang atau recurring income yang diperoleh dari bisnis infrastruktur, sehingga mampu memberikan daya tahan di tengah situasi ekonomi yang belum menentu.
Ke depannya, perusahaan bakal meneruskan pengerjaan proyek bersama para mitra dari Jepang, termasuk pada sektor tempat tinggal yang telah dijalin bersama Mitsui.
Di samping itu, Jababeka juga menyiapkan pengerjaan lanjutan di area Jababeka Cikarang, yang di antaranya meliputi pembangunan Jababeka Factory Outlet.
Ia pun mengutarakan bahwa penanam modal asal China hingga kini masih menjadi penyumbang paling besar untuk investasi yang masuk ke area industri Jababeka di Cikarang.
"Kami juga terus memperluas kerja sama dengan investor Jepang melalui berbagai kegiatan promosi kawasan. Namun saat ini, investor yang paling banyak masuk masih berasal dari China," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.