Breaking

Biaya Bengkak, Simak Prospek Saham ANTM, TINS, dan INCO pada 2026

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 14 Juli 2026
Biaya Bengkak, Simak Prospek Saham ANTM, TINS, dan INCO pada 2026
ILUSTRASI, Prospek saham ANTM, TINS, dan INCO dipengaruhi oleh pembengkakan biaya operasional pada 2026. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Prospek emiten pertambangan logam pada paruh kedua tahun 2026 diperkirakan masih dibayangi oleh ketidakpastian global. Kondisi ini didorong oleh kebijakan moneter ketat atau hawkish yang diterapkan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Penguatan indeks dolar AS serta berkurangnya premi risiko geopolitik berisiko mendorong normalisasi harga komoditas. Pada saat bersamaan, kinerja keuangan produsen di dalam negeri diproyeksikan tertekan secara internal akibat pembengkakan biaya operasional yang berpotensi menggerus margin keuntungan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, memperkirakan total pendapatan emiten logam pada kuartal II/2026 tetap tumbuh sebesar 38 persen secara tahunan menjadi US$4,5 miliar. 

Walakin, kenaikan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor harga jual serta waktu pengakuan penjualan, bukan karena pulihnya volume produksi. 

Di sisi lain, para emiten tambang mulai tertekan oleh aspek biaya operasional akibat tingginya harga bahan bakar dan belerang (sulfur). Situasi tersebut diprediksi bakal menekan margin keuntungan perusahaan pada paruh kedua 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Andhika Audrey menyatakan dalam risetnya yang dikutip Senin (13/7/2026):

"Momentum laba pada kuartal II/2026 diperkirakan hanya terkonsentrasi pada beberapa emiten, terutama PT Amman Mineral Internasional Tbk. [AMMN] dan PT Vale Indonesia Tbk. [INCO],"

Namun, Andhika menilai tekanan biaya produksi, khususnya untuk komoditas sulfur, cenderung bertahan lama atau persisten karena pengetatan rantai pasok global dan melonjaknya permintaan domestik. Selat Hormuz diketahui melayani hampir separuh dari total perdagangan sulfur laut global. 

Kendala logistik di jalur itu diperparah oleh langkah China yang membatasi ekspor asam sulfat. Di dalam negeri, kenaikan permintaan sulfur dari pabrik pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) secara struktural bersaing ketat dengan industri pupuk.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Andhika Audrey menambahkan:

"Kami memperkirakan tekanan biaya terkait sulfur akan tetap tinggi sepanjang kuartal III/2026 dan baru akan mereda secara bertahap setelahnya,"

Sementara itu, Indo Premier Sekuritas (IPOT) memaparkan bahwa sektor logam mencatatkan penurunan hampir pada seluruh harga komoditas sepanjang Juni 2026. 

Koreksi harga tersebut dipicu oleh penguatan indeks dolar AS, meredanya konflik antara AS dan Iran, serta adanya spekulasi penambahan kuota rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) nikel. 

Analis IPOT, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, mengungkapkan harga aluminium merosot hingga 19 persen secara bulanan. Di sektor energi, harga minyak Brent kembali berada di kisaran US$70 per barel setelah ketegangan di Timur Tengah menyusut, sebuah posisi yang dinilai berada di bawah nilai wajarnya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Ryan dan Reggie memaparkan:

“Meski demikian, The Fed kemungkinan akan tetap hawkish dalam jangka pendek karena dampak lanjutan dari tingginya harga energi diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa bulan ke depan, mengingat energi menjadi kontributor terbesar terhadap tingginya indeks harga konsumen AS,”

Menurut Ryan dan Reggie, perhatian pasar saat ini tertuju pada arah kebijakan pemerintah mengenai kuota RKAB nikel domestik. Berdasarkan pemantauan di lapangan, kuota RKAB diperkirakan naik menjadi 320 juta hingga 330 juta wet metric ton (wmt). 

Realisasi penambahan kuota ini diproyeksikan akan memperbaiki keseimbangan pasokan sekaligus memberikan tekanan lanjutan pada harga nikel, walaupun angka tersebut lebih rendah dari rumor pasar yang sempat beredar hingga mencapai 360 juta wmt.

Meski dihadapkan pada tantangan makroekonomi dan lonjakan biaya, beberapa sekuritas tetap mempertahankan pandangan positif secara selektif untuk sektor pertambangan logam berkat fundamentalnya yang dinilai kokoh.

TINS: Laba semester I kuat, berfungsi sebagai bantalan realisasi tahunan. Rekomendasi: Top Pick (Overweight).

ANTM: Capaian laba awal tahun yang kokoh terlindungi oleh kebijakan operasional. Rekomendasi: Top Pick (Overweight).

INCO: Berfokus pada pembalikan profitabilitas jangka menengah serta pertumbuhan EPS. Rekomendasi: Top Pick (Overweight).

BRI Danareksa mempertahankan peringkat overweight untuk sektor logam. Andhika menjagokan saham ANTM, TINS, INCO, hingga PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dengan memprioritaskan faktor realisasi laba, perlindungan kebijakan, serta kejelasan eksekusi pada semester II/2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Andhika memaparkan:

“TINS dan ANTM masing-masing telah mencapai sebesar 77 persen dan 66 persen dari estimasi laba bersih tahun 2026 kami, sehingga hal tersebut memberikan penyangga yang berarti terhadap normalisasi pada paruh kedua tahun ini,”

Bagi Andhika, AMMN dan INCO masih membutuhkan eksekusi yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, BRI Danareksa memisahkan antara momentum laba jangka pendek dan visibilitas realisasi jangka menengah. 

Di sisi lain, Ryan dan Reggie dari IPOT menegaskan kembali peringkat overweight untuk sektor ini karena ketidakpastian regulasi dianggap telah diantisipasi oleh harga saham. Mereka optimis harga komoditas akan tetap kuat dalam jangka menengah hingga panjang.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Ryan dan Reggie menyimpulkan:

“Kami memilih MDKA dan INCO sebagai pilihan utama di sektor ini didorong oleh pembalikan profitabilitas untuk MDKA dan cerita pertumbuhan laba per saham [earnings per share/EPS] untuk INCO,”

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua