Breaking

Takeda Gelontorkan Puluhan Juta Dolar AS untuk Bank Plasma RI

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 14 Juli 2026
Takeda Gelontorkan Puluhan Juta Dolar AS untuk Bank Plasma RI
ILUSTRASI, Takeda menginvestasikan US$ 30 juta untuk membangun bank plasma pertama di Indonesia. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Takeda bersiap masuk untuk menanamkan modal di Indonesia dalam rangka membangun ekosistem industri plasma nasional serta memperlebar akses terhadap produk obat derivat plasma (PODP) yang sangat krusial bagi penyelamatan jiwa manusia. Pada langkah permulaan, Takeda bakal menanamkan investasi mencapai US$ 30 juta atau setara Rp 539 miliar dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Dana tersebut dialokasikan untuk mendirikan bank plasma, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), dan melakukan kajian mendalam terkait pembangunan fasilitas produksi PODP di tanah air.

Kehadiran investasi Takeda ini diproyeksikan mampu memperkokoh ketahanan kesehatan nasional, memicu terjadinya transfer teknologi, membuka lowongan pekerjaan baru, serta memosisikan Indonesia sebagai pusat inovasi biofarmasi sekaligus basis manufaktur obat di wilayah Asia Tenggara. 

Bank plasma perdana tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai pijakan awal guna mewujudkan kemandirian pasokan plasma dan PODP di dalam negeri.

Fasilitas bank plasma ini nantinya terintegrasi dalam jaringan BioLife kepunyaan Takeda.

Kementerian Kesehatan secara resmi menetapkan Takeda sebagai salah satu industri farmasi yang memiliki wewenang menyelenggarakan fraksionasi plasma. 

Melalui ketetapan ini, Takeda diperkenankan menghimpun dan mengolah plasma secara bertahap demi menopang akselerasi industri plasma nasional sekaligus memperkuat fondasi ketahanan kesehatan serta sektor biofarmasi Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan bahwa jalinan kemitraan ini merefleksikan keseriusan pemerintah dalam mengonstruksi industri kesehatan yang strategis sekaligus memperluas jangkauan masyarakat terhadap terapi-terapi vital.

“Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," ujar Budi dalam keterangannya sebagaimana dilansir dari berita sumber, Selasa (14/7/2026).

Kolaborasi berdurasi jangka panjang ini menjadi pionir di kawasan Asia Tenggara. Prioritas utamanya berpusat pada perintisan sistem pengumpulan plasma dengan standar internasional serta peningkatan kecakapan manufaktur PODP. 

Berbekal rekam jejak global yang dimiliki Takeda, Indonesia diharapkan mampu bertransformasi menjadi pusat pengembangan teknologi plasma dan pusat inovasi biofarmasi regional.

President Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, menerangkan bahwa kerja sama ini menjadi bagian dari dedikasi perusahaan dalam memperluas jangkauan PODP di Indonesia, sekaligus mengupayakan terciptanya ekosistem plasma yang berkelanjutan. 

Hasil dari investasi tahap awal pembangunan bank plasma oleh Takeda ini nantinya dipakai sebagai basis evaluasi bersama dengan Kementerian Kesehatan sebelum dilakukan ekspansi jaringan bank plasma ke skala nasional.

Seluruh operasional bank plasma nantinya diwajibkan menerapkan standar kualitas dan kepatuhan regulasi internasional. 

Skema program ini juga diharapkan sanggup menyerap tenaga kerja baru bagi para praktisi kesehatan dan teknisi laboratorium, sekaligus mendongkrak kompetensi SDM domestik lewat program pelatihan dan alih teknologi. 

Di samping itu, Takeda pun akan menganalisis lebih lanjut rencana pembangunan fasilitas pabrik PODP dengan teknologi mutakhir di Indonesia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani memberikan pandangan bahwa investasi ini tidak sekadar memboyong aliran modal masuk, tetapi juga ikut mengakselerasi transfer teknologi, membina kompetensi SDM, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Di tengah eskalasi kebutuhan global terhadap produk PODP yang diiringi keterbatasan suplai di Asia Tenggara, kolaborasi ini diharapkan mampu mempertebal ketersediaan plasma melalui optimalisasi kapasitas lokal, peningkatan kualitas tenaga medis, dan penerapan metodologi terbaik dalam proses pengumpulan serta pemrosesan plasma. 

Sepanjang fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih berada dalam proses pengkajian, plasma yang berhasil dihimpun akan diolah terlebih dahulu melalui jaringan manufaktur global milik Takeda dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan di dalam negeri Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua