Breaking

Grup Salim MOYA Rilis Obligasi dan Sukuk 2 Triliun Rupiah untuk SPAM

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 15 Juli 2026
Grup Salim MOYA Rilis Obligasi dan Sukuk 2 Triliun Rupiah untuk SPAM
ILUSTRASI, PT Moya Indonesia resmi menerbitkan obligasi senilai Rp2 triliun untuk proyek SPAM. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Perusahaan yang bernaung di bawah Grup Salim, PT Moya Indonesia, meluncurkan obligasi senilai Rp2 triliun. Langkah ini diambil guna memperkokoh struktur permodalan pada dua entitas anak usahanya, sekaligus melakukan refinancing atas pinjaman perbankan yang sebelumnya dialokasikan untuk proyek sistem penyediaan air minum (SPAM).

Berdasarkan dokumen prospektus ringkasnya, perusahaan menawarkan obligasi dengan jumlah pokok maksimal Rp1 triliun. 

Dari total tersebut, nilai sebesar Rp424,8 miliar sudah mendapatkan komitmen penuh (full commitment), sementara sisanya yang mencapai Rp575,2 miliar ditawarkan melalui metode best effort. 

Obligasi ini terbagi menjadi tiga seri, yaitu Seri A berjangka waktu tiga tahun dengan kupon 8,50%, Seri B berjangka waktu lima tahun dengan kupon 8,75%, serta Seri C berjangka waktu tujuh tahun dengan kupon 9,00%.

"Pencatatan obligasi di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 15 Juli 2026," sebagaimana dilansir dari berita sumber prospektus MOYA.

Bukan hanya obligasi, Moya Indonesia turut meluncurkan Sukuk Wakalah I Moya Indonesia Tahun 2026 dengan target perolehan dana paling banyak Rp1 triliun. 

Dari target tersebut, sebesar Rp156,2 miliar telah dijamin lewat skema full commitment, dan sisanya ditawarkan dengan skema best effort. Sukuk ini dirilis dalam tiga seri yang membawa target imbal hasil setara dengan 8,50%, 8,75%, dan 9,00% berdasarkan jangka waktu masing-masing.

Pihak perseroan memaparkan bahwa seluruh dana yang didapatkan dari hasil penawaran umum obligasi setelah dikurangi biaya emisi, bakal dialokasikan untuk memperkuat struktur kapitalisasi dua anak usahanya. 

Kucuran pertama sejumlah Rp202,40 miliar akan disalurkan berupa tambahan setoran modal untuk PT Moya Tangerang (MT). Penyetoran modal ini direalisasikan berbarengan dengan penyertaan modal yang bersumber dari hasil penerbitan Sukuk Wakalah.

Seluruh dana yang diperoleh PT Moya Tangerang dari penerbitan obligasi serta sukuk tersebut akan difungsikan untuk mengganti sumber pendanaan proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), yang sebelumnya memakai fasilitas kredit dari PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). 

Dengan demikian, Moya memanfaatkan dana segar dari pasar modal ini untuk refinancing atas pembiayaan proyek infrastruktur air minum yang sebelumnya bersumber dari utang bank.

Di sisi lain, sisa dana hasil obligasi sebesar Rp217,03 miliar bakal dialokasikan sebagai tambahan setoran modal kepada anak usaha lainnya, yakni PT Aetra Air Tangerang (AAT). Dana yang diperoleh AAT nantinya akan dipakai guna melunasi pokok pinjaman Fasilitas Kredit Investasi yang merujuk pada Perjanjian Kredit Nomor 28 tanggal 6 Mei 2024 yang telah diamandemen beberapa kali, terakhir lewat Akta Perubahan Kedua Nomor 106 tanggal 27 Februari 2026. Melalui skema ini, perusahaan berupaya membenahi struktur keuangan sekaligus menekan liabilitas pinjaman di level anak usaha.

Sementara itu, seluruh dana hasil penerbitan Sukuk Wakalah setelah dikurangi biaya emisi, akan dipakai untuk penyertaan modal perusahaan pada PT Moya Tangerang menggunakan akad musyarakah. 

Penyetoran modal dari dana sukuk ini dijalankan secara bersamaan dengan dana hasil penerbitan obligasi, sehingga menjadi instrumen pendanaan yang terintegrasi bagi MT.

Perusahaan menegaskan bahwa seluruh dana yang diperoleh PT Moya Tangerang dari kedua instrumen keuangan tersebut tetap difokuskan untuk menggantikan dana yang sebelumnya bersumber dari pinjaman BCA dalam pembangunan proyek SPAM. 

Dengan begitu, penerbitan obligasi dan sukuk ini menjadi bagian dari rencana optimalisasi struktur permodalan jangka panjang mereka.

Dalam perilisan surat utang ini, Moya Indonesia mengantongi peringkat idAA- untuk obligasi dan idAA-(sy) untuk sukuk dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), yang menunjukkan kapasitas kuat perusahaan dalam menuntaskan kewajiban keuangannya. 

Pihak yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi meliputi BCA Sekuritas, Binaartha Sekuritas, INA Sekuritas Indonesia, Mandiri Sekuritas, Maybank Sekuritas Indonesia, dan Sucor Sekuritas. 

Sedangkan BNI Sekuritas dan Yulie Sekuritas Indonesia Tbk. berperan sebagai penjamin emisi efek. Adapun wali amanat dalam penerbitan ini adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Pihak perseroan memandang prospek bisnis di sektor penyediaan air minum masih sangat menjanjikan. Merujuk pada data Kementerian Pekerjaan Umum, cakupan akses air minum perpipaan di Indonesia baru menyentuh angka 30,12% pada 2024, yang terdiri dari 34,23% di kawasan perkotaan dan 24,35% di wilayah perdesaan. 

Pemerintah sendiri menargetkan jangkauan tersebut bisa terkerek hingga 40,2% pada 2029 dan mampu menyentuh 100% pada tahun 2045.

Moya juga memaparkan bahwa pada 2025, kapasitas pasar yang berasal dari perusahaan daerah air minum (PDAM) mitra perseroan menyentuh angka 32.210 liter per detik (lps) atau berkisar 13,28% dari keseluruhan kapasitas terpasang nasional yang mencapai 242.427 lps. 

Situasi ini dinilai membuka peluang ekspansi bisnis SPAM yang sangat potensial dalam jangka panjang, sejalan dengan kebutuhan investasi infrastruktur air minum yang terus bertambah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua