Breaking

Penjualan Semen Semester I 2026 Tumbuh 10,5 Persen di Tengah Oversupply

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 17 Juli 2026
Penjualan Semen Semester I 2026 Tumbuh 10,5 Persen di Tengah Oversupply
ILUSTRASI, Penjualan semen domestik semester I 2026 mencapai 30,71 juta ton, naik 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Sektor industri semen di dalam negeri membukukan kenaikan performa penjualan sepanjang paruh pertama tahun 2026. Kendati demikian, masalah kelebihan kapasitas produksi (oversupply) dinilai tetap menjadi hambatan struktural yang menghantui masa depan industri ini hingga penutupan tahun.

Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo memaparkan, angka penjualan semen domestik di skala nasional selama semester I 2026 menembus kisaran 30,71 juta ton. 

Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 10,5% bila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang berada di angka 27,78 juta ton.

“Hingga semester I 2026, penjualan semen domestik nasional menunjukkan pertumbuhan positif. Volumenya mencapai sekitar 30,71 juta ton, naik 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 27,78 juta ton. Pertumbuhan terjadi pada semen kantong maupun curah, masing-masing naik sekitar 10,3% dan 11,1%,” ujar Lilik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pemaparan Lilik, tren kenaikan pemasaran ini wajib ditelaah secara saksama lantaran sebagian dipicu oleh dampak basis rendah (low-base effect) pada semester I 2025. 

Apabila disandingkan dengan semester I 2024, lonjakan penjualan riilnya cuma menyentuh kisaran 7,8%. Sementara jika diukur dari semester I 2022, pergerakan positifnya berada di rentang 4,2%.

Dia menguraikan bahwa stimulus peningkatan kebutuhan semen pada enam bulan pertama tahun ini disokong oleh akselerasi penyerapan anggaran pemerintah, program pembenahan fasilitas umum, proyek pembangunan di pelbagai wilayah, serta pulihnya serapan dari lini konstruksi. 

Kendati demikian, andil dari sektor properti beserta kapasitas belanja riil publik tetap menjadi aspek yang wajib diwaspadai.

Di balik tren kenaikan omzet penjualan tersebut, situasi kelebihan pasokan masih menjadi batu sandungan utama bagi sektor semen domestik. 

Volume kapasitas pabrik yang terlampau besar melampaui tingkat kebutuhan pasar lokal memicu level pemanfaatan (utilisasi) operasional pabrik belum mampu menyentuh angka yang optimal.

“Kondisi oversupply masih menjadi persoalan struktural utama industri semen nasional. Kapasitas produksi berada di kisaran 120 juta ton per tahun, sementara utilisasi pada 2025 diperkirakan hanya sekitar 54%,” kata Lilik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Lilik menyambung, kendati tingkat penyerapan pasar pada 2026 diprediksi merangkak naik, tingkat utilisasi operasional pabrik semen domestik diproyeksikan cuma terkerek tipis ke level 56%. 

Oleh karena itu, jurang pemisah antara volume kemampuan produksi dengan kebutuhan riil pasar dalam negeri dinilai masih amat lebar.

Keadaan ini memperlihatkan bahwa peningkatan pemasaran pada semester I 2026 belum mampu memulihkan aspek fundamental bisnis semen secara menyeluruh.

Level pemanfaatan fasilitas pabrik pun masih bertengger jauh di bawah batas sehat indikator ekonomi, yakni di kisaran 80% sampai 85%.

Prospek industri semen pada semester II 2026

Melangkah ke paruh kedua tahun 2026, pihak ASPERSSI tetap mengendus adanya kans kenaikan volume permintaan semen. Akan tetapi, akselerasi pertumbuhannya diestimasi tidak akan sekuat periode enam bulan pertama.

“Prospek industri semen pada semester II 2026 masih berpeluang tumbuh, meski kemungkinan tidak setinggi semester I. Faktor kunci yang akan menentukan adalah kecepatan realisasi proyek fisik dan belanja pemerintah,” ucap Lilik sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan pandangannya, serapan semen sampai akhir tahun nanti diproyeksikan bakal ditopang oleh pengerjaan proyek milik pemerintah pusat maupun daerah, renovasi fasilitas publik, pengembangan sarana infrastruktur kewilayahan, sektor perumahan, area industri, pertambangan, serta aktivitas pembangunan maupun perbaikan hunian oleh publik.

Lilik menjabarkan, perputaran semen jenis curah bakal sangat bergantung pada eksekusi riil proyek-proyek infrastruktur serta sektor konstruksi yang berskala masif. 

Di sisi lain, pemasaran semen kemasan kantong bakal lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas pembangunan tempat tinggal, proyek-proyek berskala mikro dan menengah, serta pengerjaan renovasi rumah oleh warga selama stabilitas daya beli tetap terjaga.

Industri semen menghadapi tekanan biaya dan persaingan

Di samping kendala oversupply, lini bisnis semen nasional pun diterpa oleh problematik lain seperti ketatnya kompetisi harga di pasar, lonjakan biaya operasional produksi, hingga belum pulihnya sektor properti dan daya konsumsi masyarakat secara total.

“Tantangan industri bukan hanya menjual lebih banyak, tetapi bagaimana tetap efisien dan mampu berinvestasi di tengah persaingan harga, tingginya kenaikan biaya energi dan logistik, serta utilisasi pabrik yang masih rendah,” urainya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Demi mewujudkan akselerasi industri yang lebih tangguh dan berkelanjutan, ASPERSSI menaruh harapan agar pihak regulator dapat menjaga stabilitas antara kapasitas produksi dengan tingkat serapan pasar melalui pembatasan investasi baru, percepatan pengerjaan infrastruktur, kepastian suplai energi berbiaya kompetitif, serta perluasan implementasi semen rendah emisi karbon dalam proyek-proyek pengadaan pemerintah.

“Industri semen siap mendukung pembangunan dan agenda dekarbonisasi, tetapi memerlukan ekosistem kebijakan yang konsisten agar industri dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua