Kemendag: Ekspor Industri Pengolahan Capai USD 137,26 Miliar hingga Juli 2026
INSIDERINDONESIA.COM — Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor industri pengolahan sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai USD 137,26 miliar, tumbuh 7,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, total ekspor Indonesia dalam tujuh bulan pertama tahun ini mencapai USD 167,03 miliar, dengan ekspor nonmigas menyumbang USD 160,01 miliar atau meningkat 5,21 persen secara tahunan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut kinerja ini membuktikan penguatan nilai tambah produk dalam negeri berjalan efektif. "Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (3/9).
Kontribusi Terbesar dalam Lima Tahun Terakhir
Pangsa 82,18 persen tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menandai pergeseran struktur ekspor nasional dari ketergantungan bahan mentah menuju produk setengah jadi dan barang jadi. Pertumbuhan tertinggi ekspor nonmigas pada Januari–Juli 2026 justru datang dari kelompok logam dasar.
- Aluminium dan barang daripadanya (HS 76) tumbuh 85,78 persen
- Nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 49,84 persen
- Tembaga dan barang daripadanya (HS 74) meningkat 36,14 persen
Pendorong utama pertumbuhan ini tidak lepas dari operasional sejumlah smelter baru di Morowali, Halmahera, dan kawasan industri lainnya. Kapasitas pemurnian nikel dan tembaga yang terus bertambah membuat Indonesia mampu mengekspor produk bernilai tambah lebih tinggi, alih-alih bijih mentah yang telah dilarang pengirimannya sejak beberapa tahun terakhir.
Ceruk Pertumbuhan Baru dan Pasar yang Menyusut
Di sisi pasar, China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi tujuan utama ekspor nonmigas. Namun pertumbuhan tertinggi justru tercatat ke Hong Kong yang melonjak 36,79 persen, disusul Turki 30,58 persen dan Thailand 21,92 persen. Sebaliknya, ekspor ke Singapura turun 11,41 persen, Pakistan minus 4,32 persen, dan Australia turun 3,44 persen.
Koreksi tajam terjadi pada kelompok logam mulia dan perhiasan (HS 71) yang ambles 40,08 persen secara kumulatif. Kayu dan produk kayu juga turun 3,89 persen, sementara karet dan barang daripadanya melemah 3,18 persen. Penurunan ini perlu diwaspadai karena karet selama ini menjadi salah satu komoditas andalan dari sektor perkebunan.
Impor Bahan Baku Mengindikasikan Ekspansi Industri
Dari sisi impor, total impor Januari–Juli 2026 mencapai USD 163,33 miliar atau melonjak 19,94 persen. Impor bahan baku dan penolong masih mendominasi dengan pangsa 71,45 persen, sementara barang modal menyumbang 19,88 persen. Keduanya secara agregat mencapai 91,33 persen dari total impor.
Menariknya, impor kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) melonjak 594,46 persen secara kumulatif. Impor garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) juga naik 125,15 persen. Lonjakan ini mengindikasikan adanya proyek besar yang tengah berjalan, baik infrastruktur maupun pengadaan alat transportasi udara.
China tetap menjadi pemasok impor nonmigas terbesar dengan pangsa 42,38 persen. Adapun impor dari Prancis tumbuh 168,36 persen, disusul Argentina 70,57 persen dan Rusia 70,41 persen.
Budi menegaskan pemerintah akan menjaga keseimbangan antara penguatan pasar domestik dan daya saing ekspor. "Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri," katanya. Ia menambahkan, pertumbuhan impor yang tinggi tidak semata menjadi alarm defisit selama barang yang masuk digunakan untuk kapasitas produksi baru. Ketergantungan pada bahan baku impor memang masih menjadi catatan, tetapi perluasan industri pengolahan yang berjalan saat ini diharapkan mampu menekan kebutuhan impor di masa depan secara bertahap.