Breaking

Review The History of Concrete: Dokumenter John Wilson yang Tak Sepenuhnya Soal Beton

KE
Sabtu, 19 September 2026
Review The History of Concrete: Dokumenter John Wilson yang Tak Sepenuhnya Soal Beton
Review The History of Concrete: Dokumenter John Wilson yang Tak Sepenuhnya Soal Beton

INSIDERINDONESIA.COM — John Wilson kembali dengan "The History of Concrete", dokumenter debut layar lebarnya yang berdurasi 101 menit dan mendapat rating 3 dari 5 bintang. Film ini tayang di bioskop Amerika Serikat, diproduksi Magnolia Pictures, dan akan menyambangi HBO Max yang punya kesepakatan dengan rumah produksi tersebut. Sayangnya, sesuai judulnya, beton justru jadi bagian paling tidak menarik dari dokumenter ini.

John Wilson, komedian sekaligus dokumentarian yang dikenal lewat serial "How To with John Wilson" di HBO, melempar pitch proyek barunya setelah serial itu berakhir. Ia mengaku kesulitan mengisi jeda antarproyek, lalu memutuskan membuat dokumenter tentang sejarah beton dengan struktur film Hallmark.

Klaim itu terdengar ambisius. Kenyataannya, Wilson gagal di dua hal sekaligus: sejarah betonnya tipis, dan sentuhan film Hallmark-nya hanya bisa dicerna mereka yang paham industri perfilman.

Dari Roma Sampai Wawancara Michael Imperioli

Awal dokumenter ini justru bercerita soal pencarian proyek baru Wilson. Ia sempat mencoba menambal beton di gedung miliknya, lalu ikut seminar Writers Guild of America tentang cara menulis film Hallmark, sebelum akhirnya memutuskan angkat topik beton.

Wilson lalu terbang ke Roma. Di sana ia mengaku tidak belajar apa pun soal beton, tapi menemukan museum lilin dengan aplikasi pendamping berbasis AI yang sama-sama mencekam dan menggelikan.

Ia juga mewawancarai bintang "The Sopranos", Michael Imperioli, soal cara membuat film. Baru setelah itu pembahasan beton mulai masuk, walau tidak pernah benar-benar jadi fokus utama.

Cerita Manusia yang Justru Lebih Menancap

Begitu eksplorasi beton dimulai, yang menarik justru orang-orang di sekitarnya. Ada sekolah mengemudi di Ohio yang beroperasi di jalan beton tertua di Amerika, pria yang membersihkan permen karet dari trotoar beton New York City, sampai paduan suara perempuan yang menghibur pelari dalam lari 3.100 mil di satu blok beton di Jamaican, Queens.

Kisah-kisah merekalah yang lebih menancap di kepala penonton ketimbang betonnya sendiri. Menjelang akhir, beton memang jadi lebih menonjol, tapi juga lebih muram — masa depannya digambarkan sama suramnya dengan banyak hal lain.

Sebelum film bergaya Hallmark ini tutup, muncul sosok Jack Macco. Ia langsung mencuri perhatian, untuk baik dan buruknya, sampai dokumenter ini nyaris sama banyaknya bercerita soal interaksi Wilson dengan Jack ketimbang soal bahan bangunan itu sendiri.

Kelebihan dan Kekurangan

  • Kelebihan: kemampuan Wilson menemukan humor di hal-hal sepele dan menyambungkan titik-titik tak terduga tetap mengesankan
  • Kelebihan: setiap tangen selalu berhasil terhubung balik ke inti film, tanpa gagal
  • Kekurangan: sejarah beton yang dijanjikan judul praktis tidak tersaji
  • Kekurangan: elemen film Hallmark akan sulit dicerna penonton di luar industri perfilman
  • Kekurangan: tangen Wilson makin lama makin kurang memuaskan, walau tetap lucu

Verdict: Wajib Tonton, Tapi di Rumah Saja

Dokumenter ini tetap layak ditonton, terutama bagi penggemar John Wilson yang ingin melihat proyek barunya. Ia sendiri menyebut kesulitan membiayai film saat ini, jadi dukungan penonton bioskop tetap berarti.

Bagi yang bukan penggemar Wilson atau masih ragu, tunggu saja versi streamingnya. HBO Max kemungkinan jadi tempatnya, mengingat kesepakatan Magnolia Pictures dengan layanan tersebut.

Menonton dari rumah justru terasa lebih pas untuk film ini. Yang penting, tonton sampai selesai.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua