Kelompok BBK Tujuh Universitas Airlangga Edukasi Bahaya Pinjol Bagi Ibu PKK

Kelompok BBK Tujuh Universitas Airlangga Edukasi Bahaya Pinjol Bagi Ibu PKK
Kamis, 05 Februari 2026 | 11:59:57 WIB

JAKARTA - Di tengah pesatnya digitalisasi sektor keuangan, ancaman jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal kini mulai menyasar hingga ke pelosok pedesaan. Menyadari kerentanan tersebut, Kelompok Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) yang bertugas di Desa Pucakwangi mengambil langkah preventif yang strategis. Melalui inisiatif bertajuk edukasi literasi keuangan, mereka merangkul ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai benteng pertahanan utama keluarga. Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi rutin, melainkan upaya nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin pertama, yakni menghapus kemiskinan dengan cara melindungi aset dan stabilitas finansial warga dari praktik peminjaman yang merugikan.

Ibu-ibu PKK dipilih sebagai target utama karena peran sentral mereka sebagai pengatur keuangan rumah tangga. Dengan memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai mekanisme pinjaman digital, mahasiswa BBK UNAIR berharap masyarakat Desa Pucakwangi tidak mudah tergiur oleh tawaran dana instan yang sering kali berujung pada teror dan bunga yang mencekik. Edukasi ini menjadi sangat krusial mengingat minimnya literasi keuangan digital di tingkat desa sering kali menjadi celah bagi penyedia pinjol ilegal untuk menjerat korban yang tidak memiliki akses informasi yang cukup.

Urgensi Literasi Keuangan Digital Guna Melindungi Ketahanan Ekonomi Keluarga Desa

Tantangan utama yang dihadapi oleh warga Desa Pucakwangi adalah kemudahan akses aplikasi pinjaman melalui ponsel pintar tanpa dibekali pemahaman risiko yang memadai. Dalam sesi edukasi tersebut, mahasiswa memaparkan bagaimana pinjol ilegal bekerja dengan menyalahgunakan data pribadi dan menetapkan beban bunga yang tidak masuk akal. Dengan bahasa yang sederhana dan komunikatif, tim BBK 7 UNAIR membongkar kedok iklan pinjaman cepat cair yang sering kali menipu masyarakat awam. Literasi ini diharapkan mampu membangun kewaspadaan kolektif agar warga tidak terjebak dalam siklus utang yang dapat menghancurkan ekonomi keluarga.

Selain memaparkan risiko, mahasiswa juga memberikan tips praktis mengenai cara membedakan antara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi yang legal dan ilegal. Penekanan diberikan pada pentingnya mengecek status izin penyelenggara melalui saluran resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan membekali ibu-ibu PKK dengan kemampuan verifikasi mandiri, diharapkan mereka dapat menjadi "agen literasi" bagi anggota keluarga lainnya serta tetangga di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka, sehingga tercipta ekosistem desa yang melek finansial.

Strategi Identifikasi Pinjaman Online Ilegal Untuk Menghindari Jeratan Hutang Berbahaya

Salah satu materi inti yang disampaikan adalah pengenalan ciri-ciri spesifik pinjol ilegal yang sering kali agresif dalam melakukan penawaran melalui pesan singkat (SMS) atau WhatsApp. Kelompok BBK 7 UNAIR menjelaskan bahwa layanan legal tidak akan meminta akses ke data kontak, galeri foto, atau informasi pribadi yang bersifat sensitif di luar ketentuan regulasi. Pemahaman ini sangat penting agar warga menyadari bahwa saat mereka menyetujui akses tersebut, mereka sebenarnya sedang memberikan "kunci" bagi para oknum untuk melakukan intimidasi di kemudian hari jika terjadi keterlambatan pembayaran.

Diskusi interaktif ini juga menyoroti pentingnya membaca syarat dan ketentuan secara teliti sebelum menyetujui sebuah pinjaman. Banyak warga yang selama ini langsung menekan tombol "setuju" tanpa menyadari adanya biaya administrasi yang sangat tinggi dan tenor yang sangat pendek. Dengan pembedahan kasus-kasus nyata yang sering terjadi di masyarakat, ibu-ibu PKK di Desa Pucakwangi kini memiliki pandangan yang lebih objektif bahwa pinjaman online bukanlah solusi instan untuk masalah keuangan, melainkan komitmen finansial yang harus diperhitungkan secara matang dampaknya.

Dukungan Penuh Program BBK Universitas Airlangga Terhadap Pencapaian SDG Satu

Kegiatan edukasi ini secara substansial merupakan implementasi dari komitmen Universitas Airlangga dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya dalam menghapus kemiskinan (SDG 1). Jeratan pinjol ilegal telah terbukti menjadi salah satu faktor baru yang menyebabkan masyarakat terjatuh ke dalam jurang kemiskinan ekstrem akibat kehilangan aset dan tekanan psikologis. Dengan memberikan edukasi ini, mahasiswa BBK 7 UNAIR berperan aktif dalam memutus rantai potensi kemiskinan baru yang disebabkan oleh tata kelola keuangan yang buruk dan eksploitasi digital.

Keberhasilan program di Desa Pucakwangi ini menjadi bukti bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat desa dapat memberikan solusi preventif bagi masalah-masalah sosial yang kompleks. Mahasiswa tidak hanya membawa teori dari bangku perkuliahan, tetapi juga memberikan solusi aplikatif yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi warga. Melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola risiko keuangan, jalan menuju kemandirian ekonomi desa menjadi lebih terbuka lebar tanpa harus dibayang-bayangi oleh ancaman pinjaman yang tidak sehat.

Harapan Keberlanjutan Edukasi Mandiri Bagi Masyarakat Luas Di Desa Pucakwangi

Setelah berakhirnya sosialisasi ini, harapan besar tertuju pada konsistensi para anggota PKK dalam menyebarluaskan informasi yang telah didapatkan. Pihak desa dan perwakilan kelompok mahasiswa menginginkan agar Desa Pucakwangi dapat menjadi daerah percontohan "Desa Sadar Pinjol", di mana warganya saling mengingatkan dan melindungi satu sama lain dari tawaran pinjaman yang mencurigakan. Kesadaran yang terbangun harus bersifat permanen dan tidak berhenti hanya pada saat masa pengabdian mahasiswa berakhir.

Kelompok BBK 7 UNAIR juga menitipkan pesan agar masyarakat lebih mengedepankan opsi pinjaman melalui lembaga keuangan resmi atau koperasi desa yang lebih transparan dan aman. Dengan semangat gotong royong dan literasi yang kuat, ancaman pinjol ilegal diharapkan dapat diredam sebelum menjatuhkan korban. Komitmen untuk menjaga integritas ekonomi desa adalah tanggung jawab bersama, dan langkah awal yang telah dimulai oleh para mahasiswa UNAIR ini diharapkan menjadi pematik bagi gerakan literasi keuangan yang lebih luas di Kabupaten Lamongan dan sekitarnya.

Reporter: Gemilang Ramadhan