Asing Lepas Saham Picu Pelemahan IHSG dan Rupiah

Ilustrasi IHSG semakin terpuruk jatuh ke angka dibawah 5900
Kamis, 04 Juni 2026 | 13:49:10 WIB

JAKARTA – Pasar keuangan domestik tengah mengalami tekanan berat, ditandai dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona 5.900 serta melemahnya nilai tukar rupiah yang kian mendekati angka Rp18.000 per dolar AS. Kemerosotan situasi ini ditengarai terjadi lantaran merosotnya tingkat kepercayaan para penanam modal asing terhadap regulasi serta kebijakan yang diambil pemerintah.

Menurut pandangan Hans Kwee selaku praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, kejatuhan IHSG akhir-akhir ini bukan disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi domestik ataupun regulasi dari otoritas pasar modal. Persoalan utamanya terletak pada keraguan investor asing terhadap arah kebijakan yang ditempuh pemerintah saat ini.

Dampak dari situasi tersebut membuat pemodal asing gencar melepas aset saham mereka di tanah air. Sektor perbankan yang biasanya menjadi primadona asing, termasuk PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), turut terkena gelombang aksi jual masif hingga kapitalisasi pasarnya merosot di atas 50 persen.

"Asing itu kan memang jualan terus di pasar kami. Sebenarnya (masalah) kami itu bukan masalah fundamental, tapi trust issue (isu kepercayaan) gitu ya. Jadi kami pikir asing itu enggak trust dengan (pemerintah) kami, itu masalahnya," katanya kepada, Rabu (3/6/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hans memberikan gambaran mengenai silang pendapat serta inkonsistensi pernyataan antarpejabat pemerintah mengenai kebijakan ekonomi tertentu, yang akhirnya memicu kebingungan bagi para pelaku pasar. “Misalnya ada pejabat yang ngomong 'nanti royalti (tambang) kami naikkan' sementara ada pejabat terkait lain ngomong 'Oh dipending dulu'.' Nah, ini trust issue seperti ini yang jadi masalah,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Padahal, Hans menjabarkan bahwa indikator fundamental ekonomi nasional tergolong kokoh dalam menghadapi gejolak ekonomi dunia yang penuh tantangan. 

Terbukti, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 mampu menyentuh angka 5,61 persen, ditambah laju inflasi yang masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI). Di sisi lain, postur fiskal juga menunjukkan perbaikan lewat pencapaian defisit yang kian mengecil per April 2026.

Melihat indikator makroekonomi tersebut, Hans berpendapat koreksi yang terjadi pada IHSG idealnya hanya berlangsung sesaat.

Ia juga menambahkan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah tidak melulu membawa dampak buruk, sebab Indonesia statusnya adalah negara eksportir komoditas yang justru diuntungkan ketika dolar AS mengalami penguatan.

"Dari sisi valuasi, IHSG pada level saat ini juga sudah cukup murah jika dilihat dari forward price to earnings ratio (P/E), sehingga pelemahannya seharusnya bersifat sementara," kata Hans sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Walau begitu, ia tidak menampik adanya faktor risiko yang membayangi ekonomi domestik. Saat ini perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan Standard & Poor's (S&P) yang berpotensi menyusul langkah Moody's untuk menurunkan prospek (outlook) utang Indonesia menjadi negatif.

Sebab, lembaga pemeringkat internasional tersebut masih memberikan perhatian khusus pada pengelolaan APBN, dinamika kebijakan yang sukar diprediksi, ancaman membengkaknya defisit, hingga tingginya porsi pembayaran utang jika dikomparasikan dengan total pendapatan negara. 

Di samping itu, investor masih memantau pergerakan regulasi ekspor lewat satu pintu yang dikelola PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), walaupun sejauh ini kontribusinya belum terasa signifikan lantaran masih dalam proses pembenahan administrasi.

Meninjau faktor eksternal, dinamika global dinilai masih penuh tantangan karena eskalasi konflik di Timur Tengah yang berimbas pada bertahannya harga minyak mentah di level tinggi, ditambah dengan kebijakan pengetatan moneter di berbagai negara. 

"Kondisi ini membuat investor global cenderung memilih negara maju yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan dengan pasar negara berkembang seperti Indonesia," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan