Harga Emas Global Anjlok Dekati Batas Psikologis 4.000 Dolar AS

ILUSTRASI, emas (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 11 Juni 2026 | 13:15:38 WIB

JAKARTA – Nilai tukar emas secara global kembali berada di bawah tekanan yang cukup berat dan kini posisinya semakin mendekati batas psikologis US$ 4.000 per ons troi.

Kombinasi antara lonjakan angka inflasi di Amerika Serikat (AS), meningkatnya tingkat pengembalian obligasi, serta memanasnya ketegangan antara AS dan Iran menjadi penyebab pudarnya daya tarik logam mulia, walaupun kondisi geopolitik saat ini sedang dipenuhi ketidakpastian.

Ketika laporan ini dibuat, harga emas hari ini terpantau merosot 0,73% menuju posisi US$ 4.044,04 per ons troi. Pada sesi perdagangan Rabu (10/6/2026), harga emas spot sempat anjlok hingga 4,26% ke kisaran US$ 4.078 per ons troi. Di saat yang sama, harga perak spot melemah 2,66% menjadi US$ 63,61 per ons troi.

Berdasarkan data dari Kitco, tekanan berat pada emas terjadi setelah rilis data yang memperlihatkan inflasi AS pada Mei terkerek 0,5% secara bulanan dan naik 4,2% secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. 

Di sisi lain, inflasi inti yang tidak menghitung sektor pangan dan energi mengalami kenaikan 0,2% secara bulanan serta 2,9% secara tahunan.

Melesatnya harga di sektor energi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan inflasi. Angka energi membubung 23,5% dari tahun lalu, sementara harga bensin melesat hingga 40,5%. 

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya.

Bagi komoditas emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap, skenario kenaikan suku bunga serta penguatan imbal hasil obligasi AS menjadi stimulus negatif karena mendongkrak daya tarik instrumen investasi lain yang berbasis bunga.

Para pelaku pasar saat ini juga mengamati dengan cermat perkembangan perselisihan antara AS dan Iran yang kembali memanas dalam beberapa waktu belakangan. Selat Hormuz, sebagai jalur utama distribusi energi dunia, kini menjadi pusat perhatian para investor global.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran masih terbuka. Angkatan militer AS pun dilaporkan kembali melancarkan aksi penindakan terhadap kapal yang diduga mengangkut komoditas minyak milik Iran.

Pada umumnya, gejolak geopolitik akan memicu lonjakan permintaan emas yang berfungsi sebagai instrumen lindung nilai (safe haven). Namun, dalam momentum kali ini pasar cenderung lebih memperhatikan efek berantai konflik terhadap pergerakan inflasi dan komoditas energi. 

Dampaknya, harga minyak global melambung tinggi, imbal hasil obligasi AS merangkak naik, sedangkan emas justru terus mengalami koreksi.

Level US$ 4.000 Jadi Penentu

Berdasarkan analisis teknikal, angka US$ 4.000 per ons troi saat ini bertindak sebagai zona support krusial yang sedang dipantau ketat oleh pelaku pasar. 

Jika aksi jual masih terus masif hingga menembus batas bawah tersebut, harga emas berpeluang melanjutkan tren penurunan menuju area US$ 3.883 per ons troi.

Sebaliknya, jika harga mampu bertahan dan berbalik menguat, emas harus bisa melewati batas resistance di kisaran US$ 4.180 sampai US$ 4.200 per ons troi demi membuka peluang pemulihan (rebound) menuju target US$ 4.250 hingga US$ 4.350 per ons troi.

Di sisi lain, pergerakan harga perak terpantau masih dibayangi tekanan dengan area resistance berada pada rentang US$ 65-US$ 66 per ons troi dan level support terdekat di kisaran US$ 63,39 per ons troi.

Di tengah kondisi inflasi yang masih tinggi, tren penguatan harga minyak dunia, serta ketidakpastian situasi keamanan di Timur Tengah, fluktuasi harga emas dalam jangka pendek diproyeksikan masih akan sangat bergantung pada orientasi kebijakan moneter The Fed serta dinamika geopolitik internasional.

Reporter: Gemilang Ramadhan