Bitcoin Melemah ke 61.428 USD Menanti Kebijakan Terbaru The Fed
JAKARTA – Nilai tukar Bitcoin (BTC) terpantau lesu pada Kamis (11/6/2026) pagi. Walaupun realisasi data inflasi inti Amerika Serikat (AS) berada di bawah prediksi pasar, para pelaku pasar masih bersikap defensif menanti kepastian arah kebijakan suku bunga acuan dari The Fed.
Merujuk data dari CoinMarketCap pada pukul 06.40 WIB, nilai kapitalisasi pasar aset kripto secara global menyusut 0,98% ke angka US$ 2,11 triliun. Pada saat yang sama, harga Bitcoin (BTC) hari ini terkoreksi 0,2% menuju posisi US$ 61.428 per koin atau setara dengan Rp 1,1 miliar (menggunakan asumsi kurs Rp 17.999 per dolar AS).
Sementara itu, Indeks CoinDesk 20 yang menjadi barometer performa 20 aset kripto dengan kapitalisasi terbesar mengalami penurunan sebesar 1,23%.
Nilai Ethereum melorot 0,83% ke level US$ 1.620, Binance (BNB) terkontraksi 0,93% menjadi US$ 585, XRP anjlok 3,41% ke posisi US$ 1,09, Solana (SOL) terperosok 2,56% menuju US$ 63,14, dan Dogecoin (DOGE) tergerus 1,92% menjadi US$ 0,08.
Melansir laporan CoinDesk, Bitcoin (BTC) sejatinya sempat memperkecil margin koreksinya setelah rilis data inflasi inti AS untuk periode Mei menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Kendati demikian, komoditas aset kripto terbesar di dunia tersebut tetap bertahan di zona merah lantaran para investor terus mengantisipasi langkah kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh The Fed.
Laporan berkala dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) bertumbuh 4,2% secara tahunan (year-on-year) pada Mei, menyamai prediksi para ekonom dan lebih tinggi dari capaian April sebesar 3,8%.
Secara bulanan, nilai CPI merangkak naik 0,5%, selaras dengan proyeksi pelaku pasar dan sedikit lebih landai daripada pertumbuhan pada April yang mencapai 0,6%.
Di sisi lain, tingkat inflasi inti atau core CPI, yang mengeliminasi sektor pangan dan energi, cuma terkerek 0,2% pada Mei, berada di bawah perkiraan pasar yang mematok angka 0,3%.
Sebagai perbandingan, inflasi inti pada April tercatat berada di level 0,4%. Untuk basis tahunan, laju inflasi inti meningkat 2,9%, sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar dan mengalami kenaikan tipis dibanding realisasi bulan sebelumnya yang berada di angka 2,8%.
Rentetan data makro tersebut semakin mempertegas prediksi bahwa bank sentral AS besar kemungkinan bakal mempertahankan suku bunga acuan mereka di rentang 3,50%-3,75% dalam rapat pleno tanggal 17 Juni mendatang.
Meski begitu, para pelaku pasar tetap memperhitungkan adanya potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum pergantian tahun.
Sesaat setelah pengumuman data tersebut, Bitcoin sempat menguat secara moderat dan bertahan di atas batas psikologis US$ 61.000.
Bagaimanapun, volatilitasnya masih sangat terbatas akibat sentimen pasar yang masih terbelah. Dalam aktivitas perdagangan paling aktual, Bitcoin ditransaksikan pada kisaran US$ 61.469, atau cenderung stagnan bila dikomparasikan dengan posisinya dalam kurun waktu 24 jam ke belakang.
Di sektor lain, pergerakan kontrak berjangka indeks saham AS terpantau melemah, merefleksikan sikap penuh kehati-hatian dari para pemodal terhadap masa depan ekonomi serta regulasi moneter. Sejalan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak naik menuju level 4,5%.
Sebelum indikator inflasi tersebut dipublikasikan, para pelaku pasar sempat memproyeksikan peluang sebesar 98% bahwa The Fed tidak akan mengubah kebijakan suku bunganya dalam rapat Juni, mengacu pada indikator CME FedWatch Tool.
Walaupun rilis angka inflasi inti yang lebih jinak memberi stimulus positif jangka pendek bagi aset dengan profil risiko tinggi seperti Bitcoin, pasar secara umum tetap menantikan kepastian sinyal yang lebih tegas mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat pada semester kedua tahun ini.