Strategi HBAT Genjot Kinerja Sektor Properti di Tahun 2026
JAKARTA – Perusahaan pengembang properti, PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT), memperkirakan bahwa sektor properti masih harus melewati situasi penuh tantangan sepanjang periode 2026. Kondisi tersebut terjadi lantaran gairah belanja masyarakat yang belum sepenuhnya kembali normal.
Direktur Utama HBAT, Go Ronny Nugroho, mengungkapkan bahwa situasi ini dipicu oleh keterbatasan daya beli masyarakat serta sikap konsumen yang kian selektif dan berhati-hati sebelum memutuskan untuk bertransaksi properti.
Kendati demikian, Ronny meyakini kans untuk tumbuh masih tetap ada, khususnya pada kategori rumah tapak.
“Segmen hunian rumah tapak menawarkan nilai tambah seperti konsep ramah lingkungan dan fitur yang mendukung fleksibilitas aktivitas,” ujar Ronny dalam paparan publik secara daring, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia berpendapat, kategori rumah tapak saat ini masih menjadi produk yang paling diminati ketimbang lini properti lainnya. Terlebih, sektor ini mendapatkan sokongan dari pemerintah lewat beragam stimulus, salah satunya adalah insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Demi mempertahankan performa bisnis di tengah situasi yang menantang ini, HBAT menerapkan beberapa langkah strategis. Di antaranya adalah mempercepat proses penyelesaian unit hunian yang sudah masuk fase akhir pembangunan dengan tetap menjaga mutu produk.
Di samping itu, HBAT memaksimalkan efisiensi perencanaan dan pengerjaan proyek-proyek anyar agar sesuai dengan dinamika kebutuhan pasar.
“Penguatan strategi pemasaran menjadi salah satu fokus utama dalam meningkatkan daya tarik produk sekaligus mendorong penjualan,” tambah Ronny, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menghadapi peta persaingan bisnis yang kian ketat, HBAT juga menitikberatkan pada aspek inovasi produk, pemanfaatan kebijakan stimulus pemerintah, penerapan transformasi digital, hingga penguatan legalitas serta keterbukaan informasi.
Berdasarkan data operasional, sepanjang periode 2025 HBAT mengantongi nilai penjualan sebesar Rp 24,53 miliar, atau setara dengan 33,6% dari target yang ditetapkan senilai Rp 73,02 miliar.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto, mengonfirmasi bahwa perolehan laba komprehensif perusahaan menyentuh angka Rp 2,7 miliar pada tahun lalu.
“Penurunan penjualan dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat, suku bunga kredit yang masih tinggi, serta kecenderungan konsumen menunda pembelian,” jelas Andrie, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Faktor lain yang ikut mengoreksi angka penjualan HBAT adalah ketatnya kompetisi di peta industri serta konsumen yang semakin selektif.
Menilik laporan neraca keuangan, total aset yang dimiliki HBAT terpantau tumbuh menjadi Rp 84,6 miliar pada tahun 2025, dari posisi sebelumnya sebesar Rp 82,1 miliar pada tahun 2024.
Sebaliknya, pos liabilitas mengalami penurunan menjadi Rp 3,5 miliar dari posisi awal Rp 3,7 miliar, sementara komponen ekuitas merangkak naik menjadi Rp 81,2 miliar dari Rp 78,3 miliar.
Andrie menambahkan bahwa fluktuasi harga material bangunan yang berada di luar kendali manajemen juga turut memberi tekanan pada margin keuntungan perusahaan.
“Meski demikian, kami tetap menerapkan pengelolaan biaya yang prudent sehingga perseroan masih mampu mencatatkan laba,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025 HBAT telah mengalokasikan seluruh dana segar yang diperoleh dari aksi penawaran umum perdana saham (IPO).
Dana tersebut direalisasikan untuk melakukan ekspansi lahan (landbank), membangun berbagai fasilitas pendukung, serta menambah modal kerja operasional perusahaan.