Bukit Asam Bagikan Dividen Rp 1,32 Triliun Buku Tahun Lalu
JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana mengalokasikan dividen tunai dari tahun buku 2025 dengan total nilai mencapai Rp 1,32 triliun. Jumlah dana tersebut setara dengan 45 persen dari keseluruhan perolehan laba bersih PTBA sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 2,93 triliun.
Langkah ini menunjukkan adanya penurunan pada dividend payout ratio (DPR) PTBA apabila dikomparasikan dengan tahun 2024 sebelumnya yang menyentuh angka 75 persen.
Sisa laba bersih yang bernilai Rp 1,61 triliun atau sekitar 55 persen dialokasikan sebagai saldo laba ditahan demi menyokong ekspansi usaha serta menjaga roda bisnis tetap berkelanjutan.
Ke depannya, tiap pemegang saham PTBA bakal memperoleh dividen tunai dengan nominal sebesar Rp 114 per lembar saham.
Angka nominal ini menunjukkan tingkat yield dividen sebesar 4,33 persen jika dikalkulasikan berdasarkan harga saham PTBA pada penutupan sesi perdagangan hari Kamis (11/6) yang berada pada level Rp 2.630 per lembar saham.
Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, mengutarakan bahwa seluruh hasil keputusan RUPST ini menggambarkan iktikad korporasi dalam menyelaraskan antara pemberian nilai tambah bagi para pemegang saham, penguatan aspek permodalan, sekaligus ekspansi bisnis.
"Di tengah dinamika industri pertambangan dan energi, PTBA terus berupaya menjaga kinerja operasional yang optimal, meningkatkan efisiensi, memperkuat hilirisasi batu bara, serta mengembangkan berbagai inisiatif bisnis yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ungkap Eko dalam keterangan resmi, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada kesempatan lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengemukakan bahwa merosotnya rasio DPR PTBA berpotensi memicu perhatian tersendiri bagi kalangan investor tertentu, khususnya para pemburu dividen.
Kendati demikian, ia berpandangan bahwa regulasi ini semestinya dicermati secara menyeluruh karena memperlihatkan keseriusan pihak manajemen dalam mengamankan posisi arus kas di tengah besarnya keperluan investasi jangka panjang.
“Investor harus bisa melihat ini sebagai peluang investasi jangka panjang, karena perusahaan berkomitmen menjaga keberlanjutan bisnis,” kata dia, Kamis (11/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber. Walaupun rasio DPR mengalami penurunan, tingkat yield dividen yang disuguhkan oleh PTBA dirasa masih tergolong kompetitif jika disandingkan dengan emiten-emiten batu bara pesaingnya.
Sisi prospek performa PTBA untuk masa mendatang diprediksi bakal relatif konstan dengan peluang kenaikan yang moderat di tahun 2026.
Salah satu aspek pembeda yang menjadi kelebihan utama korporasi ialah besarnya porsi penjualan komoditas batu bara di ceruk pasar domestik, yang berperan sebagai penahan kinerja tatkala keran permintaan ekspor sedang mengalami tekanan.
PTBA pun mempunyai nilai tambah berupa manajemen biaya produksi yang terbilang lebih efisien lantaran adanya keterpaduan sarana infrastruktur seperti operasional jalur kereta api hingga fasilitas dermaga bongkar muat. “Efisiensi operasional akan menjadi kunci utama pertumbuhan PTBA di sisa tahun 2026,” imbuh dia, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Nafan memberikan rekomendasi untuk mengoleksi saham PTBA dengan target sasaran harga menyentuh level Rp 3.670 per lembar saham.
Sebaliknya, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memaparkan bahwa lewat tinjauan teknikal, pergerakan tren saham PTBA saat ini masih terjebak dalam fase downtrend yang disertai oleh gelombang tekanan jual yang relatif masif.
Posisi indikator Moving Average 20 (MA20) terpantau masih belum sanggup dilewati oleh dinamika pergerakan harga saham PTBA.
Bukan cuma itu, indikator MACD pun terlihat masih bergerak mendatar di zona negatif dengan kondisi Stochastic yang rentan mengalami dead cross pada area netral.
Herditya memberikan saran kepada para investor untuk bersikap wait and see terlebih dahulu terhadap saham PTBA, dengan mencermati batas titik support di level Rp 2.560 per saham serta titik resistance di level Rp 2.690 per lembar saham.