Suku Bunga Naik Emiten Properti Andalkan Efisiensi dan Insentif PPN
JAKARTA – Emiten di sektor properti dinilai masih memiliki prospek yang baik pada tahun 2026, walaupun saat ini harus menghadapi era tren suku bunga tinggi. Seperti yang diketahui, Bank Indonesia (BI) baru saja mengerek kembali tingkat suku bunga acuan ke angka 5,5 persen pada pekan ini.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi operasional perusahaan dan menyebabkan penurunan harga saham pada beberapa emiten properti. Berdasarkan data dari IDXProperties, indeks sektor ini bahkan sudah merosot hingga 37,13 persen secara year-to-date (YTD) sejak awal tahun.
Direktur PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), Lydia Tjio, menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga acuan tersebut bakal memengaruhi bermacam biaya pembiayaan, mulai dari bunga KPR, pinjaman perbankan, hingga harga bahan baku produksi.
Kondisi ini pun kian menantang akibat adanya konflik geopolitik global serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
“Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, kami cukup mengelola dengan prudent segala pengeluaran. Efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang,” ujarnya dalam paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Summarecon Agung, Adrianto Pitojo Adi, ikut menyampaikan rasa optimisnya bahwa pemerintah akan kembali menggelontorkan insentif demi menekan risiko dari kenaikan suku bunga tersebut.
“Ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Summarecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, Analis Maybank Sekuritas, Kevin Halim, berpendapat bahwa langkah menaikkan suku bunga kali ini memang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sebab, jika pelemahan rupiah terus terjadi secara berlarut-larut, hal itu justru akan memberikan dampak buruk terhadap minat masyarakat dalam membeli rumah.
Kevin menambahkan, kurang bergairahnya kinerja saham serta fundamental emiten properti saat ini juga disebabkan oleh siklus penjualan yang biasanya cenderung melandai pada semester pertama setiap tahunnya.
Angka penjualan umumnya baru akan mendongkrak naik pada paruh kedua, didorong oleh program promosi akhir tahun dan peluncuran proyek-proyek perumahan baru.
Saat ini, tingkat valuasi saham sektor properti sudah menyentuh level historical lows, dengan potongan harga (diskon) mencapai 85-90 persen terhadap Net Asset Value (RNAV). Sementara untuk rasio price to book value (PBV) diperkirakan akan bertengger di kisaran 0,3-0,5 kali pada tahun 2026.
Secara fundamental, perusahaan-perusahaan properti sebenarnya ditopang oleh neraca keuangan yang sehat dengan cadangan kas yang besar serta rasio utang yang masih berada dalam batas aman.
Hanya saja, saat ini memang belum muncul sentimen positif yang cukup kuat untuk mendongkrak kenaikan valuasi karena angka penjualan rumah yang masih cenderung stagnan.
Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, melihat kebijakan kenaikan suku bunga ini cukup memberatkan industri properti lantaran beban cicilan KPR akan semakin mahal dan pihak perbankan bakal semakin ketat dalam memberikan pembiayaan.
Oleh karena itu, kinerja keuangan emiten properti pada kuartal II diprediksi akan lebih berat ketimbang kuartal I, khususnya bagi para pengembang yang mengandalkan penjualan rumah tinggal (residensial).
“Namun, dampaknya tidak merata, karena emiten dengan recurring income besar, kas kuat, dan proyek township yang sudah mature cenderung lebih tahan,” ujarnya, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping itu, kemerosotan indeks IDXProperties juga dipengaruhi oleh aksi aksi jual dan tekanan pasar secara makro sejak awal tahun.
Ekky menegaskan kembali bahwa sektor properti menerima beban tambahan karena karakteristiknya yang sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga. “Kenaikan BI Rate kembali menurunkan ekspektasi investor terhadap marketing sales, margin, dan kemampuan konsumen mengambil KPR,” paparnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dari sudut pandang lain, Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, memproyeksikan bahwa tantangan paling berat pada kuartal II ini akan dirasakan oleh perusahaan pengembang yang membidik target pasar kelas menengah.
Tren peningkatan suku bunga berpotensi menggerus daya beli sekaligus memicu para calon konsumen untuk mengambil sikap wait-and-see sebelum membeli properti.
Meski begitu, kebijakan perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen yang berlaku sepanjang tahun 2026 dapat menjadi angin segar.
Emiten yang memiliki porsi pendapatan berulang (recurring income) yang kuat dinilai bakal mempunyai daya tahan yang jauh lebih baik.
“PWON menjadi cukup menarik, karena pendapatan masih didominasi oleh recurring income yang relatif lebih resilien terhadap kenaikan suku bunga,” katanya kepada Kontan, Kamis, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk rekomendasi saham, Kevin Halim memberikan rekomendasi beli untuk saham BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga berturut-turut pada level Rp 1.050, Rp 1.150, Rp 580, dan Rp 520 per lembar saham. Sektor sejenis juga disarankan oleh Ekky Topan, yang meminta para investor untuk mencermati saham PWON, CTRA, dan BSDE karena ditunjang oleh struktur neraca dan arus kas yang solid.
Sebagai pelengkap taktik investasi, Adrian Djie menilai saham-saham emiten properti saat ini sedang diperdagangkan pada level harga yang sangat atraktif, mengingat koreksi yang terjadi lebih disebabkan oleh faktor tekanan pasar yang sistematis.
Untuk target investasi jangka pendek, Adrian menyarankan strategi trading buy untuk saham PWON dengan target harga berada di level Rp 270 per saham.