Danantara Raup 1,5 Miliar Dolar AS dari Obligasi Global
JAKARTA – Unit pengelola investasi di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berhasil mengumpulkan dana sebesar 1,5 miliar dolar AS. Perolehan dana tersebut didapatkan lewat langkah penerbitan obligasi global perdana mereka yang menggunakan denominasi dolar AS.
Aktivitas transaksi ini menjadi sebuah batu ujian penting bagi ketertarikan para investor luar negeri terhadap instrumen aset Indonesia di kala menghadapi beraneka ragam situasi ekonomi yang menantang.
Pihak Danantara Investment Management mengedarkan obligasi dengan nilai 750 juta dolar AS bagi jangka waktu lima tahun serta sebesar 750 juta dolar AS untuk jangka waktu 10 tahun.
Jumlah emisi yang diterbitkan tersebut rupanya berukuran lebih besar ketimbang target awal yang pada mulanya diperkirakan hanya akan menyentuh angka 1 militar dolar AS.
Tingginya ketertarikan dari pihak pasar membuka peluang bagi perusahaan untuk menaikkan volume emisi sekaligus menurunkan besaran tingkat keuntungan (imbal hasil) yang ditawarkan kepada investor.
Untuk instrumen obligasi dengan jangka waktu lima tahun dipatok pada tingkat imbal hasil sebesar 5,35 persen, sedangkan untuk jangka waktu 10 tahun memberikan imbal hasil di angka 5,95 persen.
Tingkat permintaan dari para penanam modal terpantau amat kuat, di mana akumulasi pemesanan yang masuk berhasil menembus lebih dari 4,6 miliar dolar AS, atau setara dengan tiga kali lipat dari jumlah nilai yang diedarkan.
Tingginya antusiasme dari penanam modal tersebut memberikan ruang bagi korporasi untuk memotong imbal hasil akhir sebesar 35 basis poin dari acuan harga yang ditetapkan di awal.
Pencapaian positif ini tergolong menarik perhatian lantaran terealisasi di periode saat pelaku pasar tengah mengawasi pelemahan nilai tukar mata uang rupiah serta strategi ekonomi dari pihak pemerintah yang dipandang bersifat ekspansif.
Pada pekan ini, pihak Bank Indonesia mengambil sebuah kebijakan yang tidak lumrah lewat pengumuman kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga menyentuh angka 5,50 persen.
Kebijakan tersebut dijalankan dengan tujuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah melewati rentetan rekor penurunan performa terhadap mata uang dolar AS.
Mengenai profil institusinya, Danantara secara resmi diperkenalkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada bulan Februari 2025 sebagai sebuah wadah pengelola investasi berskala nasional yang memegang tanggung jawab secara langsung kepada pucuk pimpinan presiden.
Badan ini mengemban fungsi serta kewajiban guna mengelola sekaligus memaksimalkan potensi bermacam-macam aset vital kepunyaan negara.
Seluruh dana segar yang diperoleh dari hasil penerbitan obligasi ini nantinya bakal dialokasikan demi memenuhi keperluan umum korporasi, termasuk di dalamnya untuk membiayai investasi anyar serta melakukan pembayaran kembali kewajiban utang yang ada.
Surat utang tersebut diagendakan untuk didistribusikan ke pasar pada tanggal 18 Juni 2026 yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana program Global Medium-Term Notes dengan nilai total sebesar 5 miliar dolar AS.
Terdapat jajaran institusi keuangan baik dari lingkup internasional maupun domestik yang mengambil peran sebagai pihak pengelola buku (bookrunner), di antaranya adalah Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Sekuritas, bersama dengan Standard Chartered.
Torehan keberhasilan ini memperlihatkan bahwa daya tarik global terhadap instrumen berbasis pendapatan tetap di Indonesia nyatanya masih tergolong solid di tengah situasi pasar yang terus bergerak dinamis.