Prodia Diagnostic Line Targetkan Rp62,75 Miliar dari Aksi IPO

ILUSTRASI, Gedung Bursa Efek Indonesia (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 18 Juni 2026 | 11:09:59 WIB

Bursa Efek IndonesiaJAKARTA - Calon emiten di sektor kesehatan, PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), telah memaparkan rencana penggunaan dana yang diperoleh dari penawaran umum perdana saham (IPO). Dana tersebut akan difokuskan untuk memperkuat struktur permodalan dan mendanai ekspansi bisnis perseroan.

Berdasarkan dokumen prospektus IPO PRDL, sebagian besar dana yang diperoleh anak usaha grup Prodia di bidang alat kesehatan diagnosis medis ini akan digunakan untuk membayar utang bank. 

Strategi ini diambil untuk menekan beban finansial serta meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan dalam memperluas pasar diagnostik dan laboratorium.

Secara lebih terperinci, prospektus awal tersebut menerangkan bahwa dana hasil IPO sebesar Rp35,67 miliar akan dimanfaatkan untuk melunasi pokok fasilitas kredit yang diperoleh dari PT Bank Central Asia Tbk. serta PT Bank Pan Indonesia Tbk. (Bank Panin).

Pelunasan untuk Bank BCA meliputi fasilitas Kredit Lokal (rekening koran) senilai Rp10 miliar, Kredit Investasi I sebesar Rp10,5, miliar, dan Kredit Investasi II sebesar Rp19,5 miliar. 

Per tanggal 31 Desember 2025, sisa pinjaman yang tercatat adalah Rp23,25 miliar dan akan dibereskan sepenuhnya lewat kombinasi pembayaran sebelum masa IPO serta alokasi dana penawaran umum.

Di samping itu, sisa dana IPO juga bakal digunakan melunasi fasilitas Pinjaman Jangka Panjang (PJP) B2B Small Medium Business dari Bank Panin. Dari total saldo pinjaman sebesar Rp15,33 miliar per akhir 2025, manajemen berniat melunasi Rp14,17 miliar menggunakan perolehan dana IPO.

Selain menyelaraskan struktur modal, Prodia Diagnostic Line juga mengalokasikan sekitar 28,92% dari total dana segar IPO untuk keperluan belanja modal (capital expenditure/capex).

Dana capex ini ditujukan untuk memacu kapasitas produksi dan efisiensi operasional, seperti pengadaan mesin produksi, alat kalibrasi, kendaraan operasional, pembaruan sistem perangkat lunak (software), penataan ulang area pabrik, hingga penambahan Air Handling Unit (AHU) pada Laboratorium Biomolekuler. 

Langkah investasi ini dipandang krusial karena permintaan pasar terhadap layanan diagnostik dan pengujian laboratorium terus meningkat seiring kebutuhan layanan kesehatan modern yang presisi.

Adapun porsi sekitar 8,51% dari perolehan IPO akan diposisikan sebagai modal kerja (working capital) untuk membiayai operasional harian, termasuk pembelian bahan baku, pengembangan produk baru, serta aktivitas pemasaran dan penjualan.

PRDL bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat aksi IPO yang dijadwalkan pada Juli 2026. Perusahaan bakal melepas maksimal 522,9 juta lembar saham baru atau setara dengan 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. 

Nilai penawaran saham dipatok pada kisaran Rp100-Rp120 per saham, sehingga emiten alat kesehatan ini berpeluang mengantongi dana segar maksimal Rp62,75 miliar.

Proses penawaran awal (bookbuilding) dilaksanakan pada 18-23 Juni 2026, dan perseroan membidik pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat terbit pada 29 Juni 2026. 

Masa penawaran umum rencananya bergulir pada 1-7 Juli 2026, disusul tanggal penjatahan pada 7 Juli 2026. Saham akan didistribusikan secara elektronik pada 8 Juli 2026 sebelum akhirnya saham PRDL resmi melantai dan diperdagangkan di BEI pada 9 Juli 2026. 

Dalam aksi korporasi ini, PT Sucor Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan