Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Bayangi Pasar Saham Asia

Ilustrasi: Bursa saham Asia diperkirakan mengalami koreksi menyusul sinyal kenaikan suku bunga The Fed. (Foto: NET)
Kamis, 18 Juni 2026 | 13:32:07 WIB

JAKARTA – Pasar saham serta obligasi di kawasan Asia bersiap mengekor penurunan yang terjadi di Wall Street. Situasi tersebut disebabkan oleh adanya indikasi kuat dari Federal Reserve (The Fed) bahwa suku bunga acuan berpeluang besar ditingkatkan demi meredam laju inflasi.

Kontrak berjangka indeks saham untuk pasar Jepang, Australia, dan Korea Selatan memperlihatkan indikasi pembukaan yang melemah di seluruh wilayah. 

Di bursa Amerika Serikat sebelumnya, indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 1,2 persen dan Nasdaq 100 terkoreksi sebesar 1 persen, bersamaan dengan harga minyak mentah AS yang dibuka jatuh pada hari Kamis (18/6).

Sektor obligasi di tingkat regional pun bersiap menghadapi maraknya aksi jual, mengekor tren yang terjadi pada surat utang pemerintah AS. Imbal hasil dari obligasi Treasury dengan jangka waktu dua tahun meroket 13 basis poin ke angka 4,18 persen, di tengah mata uang dolar AS yang kian perkasa.

Di wilayah Asia, nilai mata uang yen Jepang merosot ke titik paling rendah terhadap dolar AS semenjak Juli 2024, yang memperbesar peluang terjadinya intervensi oleh pihak berwenang setempat. 

Kevin Warsh selaku Gubernur The Fed dalam sesi jumpa pers memaparkan keteguhan bank sentral demi mengembalikan stabilitas harga saat inflasi masih bertahan di atas sasaran 2 persen.

"Setengah anggota komite memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini, dan itu merupakan sinyal yang sangat kuat bagi pasar," kata Bob Michele, Chief Investment Officer dan Kepala Global Pendapatan Fixed di JPMorgan Asset Management sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Saya pikir mereka sedang bersiap untuk menaikkan suku bunga," ujar Bob Michele sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah tersebut menandakan kali keempat berturut-turut di mana kebijakan mengenai suku bunga dipertahankan stabil, tetapi para pembuat kebijakan sekarang melihat progres ekonomi berjalan "solid". Prioritas utama dari The Fed kini telah beralih dengan melihat inflasi sebagai isu krusial utama ketimbang melemahnya sektor pencarian kerja.

"Perubahan sikap The Fed yang lebih hawkish belakangan ini bukan semata-mata karena kenaikan harga energi," kata Kay Haigh dari Goldman Sachs Asset Management sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Meski harga minyak baru-baru ini mengalami penurunan, setengah anggota FOMC memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi secepat tahun ini, mencerminkan kuatnya data pasar tenaga kerja dan inflasi," ujar Kay Haigh sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Warsh turut menyampaikan perihal pembentukan tim khusus untuk memeriksa neraca milik The Fed yang bernilai sebesar US$6,7 triliun. Sementara di Jepang, para pelaku pasar masih merasa cemas terhadap tindakan Bank of Japan yang dianggap kurang responsif dalam memperketat kebijakan demi menstabilkan nilai tukar yen.

Para penanam modal saat ini juga sedang memantau perkembangan sektor teknologi di Asia pasca pergerakan yang bervariasi di pasar AS. Dari ranah geopolitik, Presiden Donald Trump memberikan pembelaan atas kesepakatan damai temporer dengan pihak Iran yang berpeluang mengaktifkan kembali jalur Selat Hormuz.

"Pasar sudah bergerak melampaui perang ini," kata Mike Wilson, analis strategi Morgan Stanley sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Kami baru saja mengetahui betapa besarnya pasokan yang tersedia," ujar Mike Wilson sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan