BNI Dukung Stabilisasi Makro dan Pacu Transformasi Digital
JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menegaskan komitmen dukungannya atas keputusan Bank Indonesia (BI) dalam memperketat kembali instrumen kebijakan moneter. Langkah bank sentral yang mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebanyak 25 basis poin (bps) hingga mencapai level 5,75 persen dipandang sebagai sebuah keputusan taktis sekaligus krusial demi memproteksi perekonomian makro dalam negeri dari dampak rambatan ketidakpastian global.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo menyampaikan bahwa kombinasi kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter tersebut sangat krusial dalam mengendalikan stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tingkat inflasi domestik.
Upaya mitigasi sejak dini ini dipercaya dapat memperkokoh kepercayaan para pelaku usaha serta investor global terhadap masa depan pasar keuangan di Indonesia.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Okki menjelaskan dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Minggu (21/6/2026), “BNI mendukung kebijakan Bank Indonesia sebagai langkah antisipatif dalam merespons meningkatnya ketidakpastian global. Kebijakan yang terukur dan kredibel menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar serta mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi,”
Okki juga memastikan bahwasanya kenaikan BI Rate hingga menyentuh angka 5,75 persen tersebut sama sekali tidak mengganggu stabilitas operasional perbankan dari emiten yang berkode saham BBNI ini.
Disokong oleh fondasi finansial yang kokoh, struktur permodalan yang kuat, serta ketersediaan likuiditas yang sangat mencukupi, BNI tetap optimis bahwa penyaluran kredit kepada masyarakat akan terus berjalan secara sehat.
Meski begitu, jajaran manajemen BNI tetap bersikap realistis dalam memperhitungkan efek transmisi dari suku bunga yang baru ini terhadap pola permintaan kredit di pasar.
Strategi yang dijalankan oleh pihak perseroan saat ini adalah memperketat proses penyaringan portofolio demi menjaga kualitas aset tetap prima. Alokasi pembiayaan bakal diprioritaskan pada sektor-sektor produktif utama yang menjadi pilar penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagai langkah antisipasi terhadap fluktuasi biaya dana di pasar yang dipicu oleh kenaikan BI Rate, BNI semakin gencar mendorong program transformasi digital.
Efisiensi yang berbasis pada pemanfaatan teknologi ini dimaksimalkan untuk menekan pengeluaran operasional sekaligus memberikan pelayanan perbankan yang aman, cepat, dan tanpa hambatan bagi seluruh nasabah.
Percepatan digitalisasi ini juga diimbangi dengan komitmen tinggi dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) serta kedisiplinan manajemen risiko yang menyeluruh.
Pihak perseroan pun secara rutin melakukan pemantauan ketat terhadap dinamika portofolio kredit dan pergerakan likuiditas pasar demi memitigasi gejolak pasar lebih awal.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Okki memungkas, “Dengan fokus pada transformasi, penguatan tata kelola, dan pengelolaan risiko yang disiplin, BNI terus berupaya menjaga kinerja yang sehat serta memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan,”
Ke depannya, BNI berkomitmen penuh untuk selalu adaptif dalam menyelaraskan rencana bisnis korporasi dengan arah kebijakan makroekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah dan bank sentral, guna memastikan pertumbuhan bisnis yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan.