Mitratel Ekspansi Melalui Merger UMT dan Persada Sokka per 1 Juli 2026

ILUSTRASI, Mitratel resmi merger UMT dan Persada Sokka per 1 Juli 2026 untuk ekspansi bisnis. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 29 Juni 2026 | 09:46:35 WIB

JAKARTA – Perusahaan di bawah naungan Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel, bersiap untuk merealisasikan proses penggabungan dua anak usahanya ke dalam tubuh induk perusahaan. Langkah strategis ini ditempuh sebagai bagian dari upaya Mitratel memperlebar portofolio bisnisnya.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang dirilis di Bursa Efek Indonesia (BEI), dua anak perusahaan yang dimaksud ialah PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) serta PT Persada Sokka Tama (PST). Selain mempunyai lini bisnis yang serupa dengan MTEL, PST turut mengoperasikan bisnis di bidang konsultasi dan perancangan IoT, penyediaan tenaga kerja untuk jangka waktu tertentu, sampai perdagangan besar untuk perangkat telekomunikasi. 

Di sisi lain, UMT fokus pada lini bisnis utama yang mencakup pemasangan instalasi telekomunikasi, perdagangan besar perangkat telekomunikasi, operasional telekomunikasi bermedia kabel, hingga penyedia layanan internet (internet service provider).

Setidaknya ada 6 alasan utama yang melandasi MTEL melakukan peleburan terhadap dua anak usahanya ini, yang mana salah satunya bertujuan demi menaikkan skala serta portofolio infrastruktur yang dimiliki perseroan. Pihak manajemen menaruh harapan agar penggabungan operasional ini mampu memperkokoh daya saing yang dimiliki MTEL di industri tanah air.

”Penggabungan usaha ini akan memperluas portofolio menara telekomunikasi dan infrastruktur pendukung MTEL secara substansial, sehingga memperkuat skala dan kualitas aset MTEL. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan posisi kompetitif MTEL sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi terkemuka di Indonesia, serta memperkuat kemampuan MTEL dalam mengamankan peluang penyewaan dari operator telekomunikasi,” tulis pihak manajemen sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Minggu (28/6/2026).

Bukan hanya itu, alasan-alasan pendukung lainnya meliputi optimalisasi pada rasio kolokasi, penghematan pengeluaran operasional, penguatan pada aspek struktur permodalan, perluasan area jangkauan, hingga peningkatan nilai manfaat bagi para pemegang saham.

Ke depannya, MTEL yang bertindak sebagai entitas penerima penggabungan usaha bakal menambah minimal 4 lini kegiatan usaha baru. Lini tersebut meliputi jasa akses internet, aktivitas konsultasi dan perancangan IoT, penyediaan tenaga kerja waktu tertentu, serta aktivitas bidang telekomunikasi lainnya.

Langkah penggabungan ini pun dipastikan tidak akan mengubah kegiatan usaha utama dari MTEL dikarenakan keseluruhan saham dari anak perusahaan tersebut memang didekap penuh oleh MTEL. 

Oleh sebab itu, aksi korporasi ini dinilai tidak akan memicu terjadinya dilusi kepemilikan saham ataupun merombak susunan para pemegang saham di MTEL.

Situasi tersebut senada dengan sasaran dari dilakukannya penggabungan anak usaha MTEL, yaitu membuka jalan bagi MTEL dalam memperluas jangkauan jaringan infrastrukturnya menuju area-area yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

”Sehingga meningkatkan akses pasar, memperkuat pipeline permintaan, serta mendukung pengembangan konektivitas digital nasional, termasuk jaringan 4G dan 5G,” tegas pihak manajemen sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Terkait agenda ini, pihak MTEL, PST, beserta UMT dijadwalkan akan melangsungkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada hari Senin (30/6/2026). Untuk tanggal efektif berlakunya penggabungan usaha ini ditetapkan pada 1 Juli 2026. 

Skema rancangan penggabungan usaha tersebut pun telah mengantongi persetujuan dari dewan komisaris masing-masing perseroan dan telah memperoleh pernyataan efektif dari pihak OJK. 

Bagi para pemegang saham yang menyatakan tidak setuju terhadap keputusan aksi korporasi ini, nantinya memiliki hak untuk mengajukan pembelian kembali saham mereka dengan nilai harga yang wajar.

Reporter: Gemilang Ramadhan