Saham Sektor AI Merosot, Tiga Indeks Utama Wall Street Turun
JAKARTA – Pasar saham Wall Street terpantau melemah pada sesi perdagangan Jumat (26/6) akibat merosotnya harga saham para produsen chip kecerdasan buatan (AI) secara tajam. Kendati demikian, saham Moderna bersama beberapa perusahaan di sektor kesehatan justru mampu mencatatkan lonjakan yang berarti.
Saat perdagangan Jumat lalu berakhir, indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,05 persen hingga menyentuh posisi 7.353,95. Pada waktu yang sama, indeks Nasdaq melemah sebesar 0,24 persen ke level 25.297,62, sedangkan Dow Jones Industrial Average terdepresiasi sebesar 0,09 persen menjadi 51.876,11.
Indeks semikonduktor PHLX (SOX) merosot hingga 5,3 persen, memperlihatkan fluktuasi yang tinggi pada saham produsen chip AI yang selama ini menjadi motor penggerak bursa Wall Street.
Walaupun harapan terhadap teknologi AI tetap terjaga, sejumlah pemodal mulai merasa cemas bahwa investasi masif pada pusat data memerlukan durasi yang tidak sebentar untuk menghasilkan profit.
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa koreksi besar sedang terjadi di sektor teknologi. Namun yang jelas, pertanyaan mengenai profitabilitas dan besarnya belanja modal (capex) belum akan hilang," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Chief Investment Strategist AlphaCore Wealth Advisory, David Stubbs, turut memberikan peringatan terkait potensi tekanan di bursa Wall Street sekiranya korporasi di AS tidak mampu mencapai target proyeksi laba yang tinggi.
Sementara itu, saham Apple sanggup terangkat sebesar 3,1 persen setelah adanya kebijakan menaikkan harga perangkat iPad serta MacBook.
Saham Moderna pun melesat mendekati 13 persen menuju titik tertingginya sejak tahun 2024 setelah mendemonstrasikan lini produk mereka.
Sebaliknya, delapan dari total 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri perdagangan di zona merah, di mana sektor industri merosot sebesar 3,41 persen dan sektor material melemah sebesar 2,45 persen.
Laju inflasi di AS yang kembali merangkak naik melampaui 4 persen pada periode Mei dipicu oleh konflik Iran, sehingga memelihara peluang bagi Federal Reserve untuk mengerek suku bunga acuan.
Menurut pandangan Art Hogan selaku Chief Market Strategist B. Riley Wealth, peningkatan harga pada produk Apple mengindikasikan bahwa isu inflasi masih menjadi perhatian yang mendalam.
"Kami melihat dinamika serupa saat pandemi ketika gangguan rantai pasok membatasi akses terhadap semikonduktor. Kini kami menyaksikan guncangan pasokan yang serupa, tetapi kali ini dipicu oleh chip memori, yang kembali menciptakan tekanan inflasi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam akumulasi mingguan, indeks S&P 500 menyusut sebesar 2,05 persen dan Nasdaq jatuh sebesar 4,7 persen. Indeks semikonduktor kehilangan 7,9 persen dalam satu pekan, yang menjadi penurunan paling kelam sejak awal April lalu.
Di lantai bursa, pergerakan jumlah saham yang menguat di indeks S&P 500 terpantau dominan dengan perbandingan rasio sebesar 1,8 banding 1. Sebanyak 35 saham berhasil mencetak rekor tertinggi baru dalam kurun waktu 52 minggu, dengan total volume perdagangan yang dibukukan menembus 30,1 miliar saham.