Menakar Saham Grup Alamtri: AADI Jadi Unggulan di Semester II-2026

Ilustrasi LTS Adaro Power - grup ADRO. Foto: Adaro power
Penulis: Ibtihal
Rabu, 01 Juli 2026 | 10:28:18 WIB

JAKARTA - Saham-saham Grup Alamtri dinilai tetap mempunyai prospek yang cerah sampai penghujung tahun 2026. 

Kendati demikian, pemodal wajib lebih selektif lantaran prospek dari tiap-tiap emiten disokong oleh faktor yang berlainan. 

Semenjak awal tahun, dua emiten dari Grup Alamtri sukses menorehkan performa saham yang positif. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melonjak sebesar 25,27% secara year to date (ytd) menuju level Rp 2.280 per saham sampai 29 Juni 2026. 

Di sisi lain, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menguat 12,77% ytd ke angka Rp 7.950 per saham. Berbeda dengan keduanya, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) justru mengalami koreksi senilai 17,02% semenjak awal tahun dan berakhir pada level Rp 1.365 per saham.

Pengamat menilai reli harga batubara termal yang kembali naik di tengah kekhawatiran suplai energi global menjadi pemicu penguatan ADRO dan AADI. 

Di samping itu, kedua emiten tersebut juga populer sebagai pembagi dividen yang memikat, sehingga kian digemari para pemodal. AADI menjadi salah satu emiten yang memperoleh keuntungan terbesar dari tren ini lantaran operasional bisnisnya berfokus pada produksi sekaligus penjualan batubara termal.

Melalui karakter bisnis yang simpel serta eksposur langsung terhadap harga batubara, tiap peningkatan harga komoditas berpeluang untuk langsung terefleksikan pada pertumbuhan keuntungan perseroan. 

Sementara itu, apresiasi ADRO tidak melulu disokong oleh lini bisnis batubara. Pasar pun mulai memberikan nilai lebih terhadap agenda pembelian kembali saham (buyback), potensi pembagian dividen yang melimpah, beserta prospek bisnis aluminium serta energi baru terbarukan (EBT) yang tengah dikembangkan oleh perseroan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memandang ADRO mendapatkan stimulus ekstra dari proyek energi hijau yang tengah berjalan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas 1,3 gigawatt (GW), pembangkit surya 0,4 GW, sampai rencana ekspor daya listrik menuju Singapura. 

Berlawanan arah, pergerakan ADMR cenderung tertahan lantaran fokus utamanya bertumpu pada batubara metalurgi yang dimanfaatkan oleh industri baja. 

Sektor ini tidak meraup berkah langsung dari lonjakan harga batubara termal sebagaimana yang dinikmati ADRO dan AADI. Selain itu, prospek ADMR masih bergantung terhadap pemulihan harga batubara metalurgi dunia serta progres proyek hilirisasi aluminium yang saat ini tengah bergulir. 

Situasi ini memicu investor cenderung bertindak lebih awas terhadap saham tersebut.

Melangkah ke semester II-2026, pengamat memprediksi tren positif ADRO dan AADI masih berpotensi untuk berlanjut. Sejumlah faktor pendorong yang dianggap mendukung antara lain agenda penyesuaian harga Domestic Market Obligation (DMO), pelonggaran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang mulai diimplementasikan pada Juli, serta beroperasinya proyek-proyek EBT milik ADRO secara bertahap.

Walau begitu, sederet risiko tetap patut diwaspadai. Fluktuasi nilai tukar rupiah dapat membengkakkan beban operasional tertentu, sedangkan kenaikan stripping ratio pada sejumlah wilayah tambang berpotensi memicu lonjakan ongkos produksi. 

Ketidakpastian regulasi mengenai DMO maupun pungutan ekspor pun masih menjadi aspek yang patut dicermati.

Dari ketiga emiten Grup Alamtri, sejumlah analis menetapkan AADI sebagai opsi primer untuk semester II-2026. Pasca-restrukturisasi internal grup, AADI bertransformasi menjadi motor utama bisnis batubara Alamtri sehingga mempunyai leverage paling masif terhadap kenaikan harga batubara termal. 

Di samping itu, jaringan pasar ekspor yang terbentang luas di pelbagai negara berkembang kawasan Asia menjadikan AADI dinilai lebih fleksibel untuk mempertahankan volume penjualan di tengah dinamika permintaan dunia.

"AADI menjadi pilihan paling menarik karena model bisnisnya paling sederhana, paling langsung menikmati kenaikan harga batubara termal, dan tetap menawarkan potensi dividen yang kuat," ujar Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan.

Secara teknikal, sejumlah pengamat mematok target harga jangka pendek hingga menengah untuk saham AADI pada kisaran Rp 9.450 sampai Rp 9.475 per saham. 

Apabila tren penguatan batubara termal terus berjalan, saham ini bahkan berkesempatan untuk kembali menuju zona Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per saham. 

Lewat perpaduan eksposur langsung pada harga batubara, potensi dividen yang tinggi, serta topangan restrukturisasi bisnis, AADI dianggap mempunyai kans terbesar untuk menjadi bintang di antara jajaran saham Grup Alamtri pada paruh kedua tahun 2026.

Reporter: Ibtihal