Prospek IPO BACH Lewat Proyeksi Fundamental dan Valuasi Saham

ILUSTRASI, PT Bach Multi Global Tbk menetapkan harga IPO Rp442 per saham dengan masa penawaran 2–6 Juli 2026. (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 02 Juli 2026 | 12:13:04 WIB

JAKARTA – PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) menetapkan harga penawaran umum senilai Rp442 per saham, dari harga penawaran awal Rp400-Rp500. Bagaimana prospek manis yang dibawa oleh saham anyar ini? Masa penawaran umum BACH berlangsung dari 2 Juli sampai 6 Juli 2026 dan dijadwalkan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2026. Dalam proses IPO ini, perseroan menunjuk PT Erdhika Elit Sekuritas selaku penjamin pelaksana emisi efek, bersama PT Pilarmas Investindo Sekuritas sebagai penjamin emisi efek. Keduanya menjamin IPO BACH dengan kesanggupan penuh (full commitment).

Senior Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas memaparkan bahwa dalam menyaring saham IPO yang potensial, performa fundamental perusahaan dalam jangka menengah serta panjang akan menjadi faktor penentu utama pergerakan harga saham usai IPO. "Kami melihat BACH menarik diperhatikan. Selain kinerja, BACH menawarkan harga termasuk undervalued," kata Sukarno, Rabu (1/7/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas yang dipublikasikan pada 29 Juni 2026, tim riset mengupas kondisi fundamental emiten jasa perindustrian ini, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sepanjang 2025, BACH mencatatkan pendapatan senilai Rp1,73 triliun atau naik 39,7% year on year (YoY).

Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan kuat pada penjualan generator sebesar 93,3% YoY menjadi Rp853,7 miliar dan layanan sewa generator yang melonjak 1.240% YoY menjadi Rp124,2 miliar. 

Pendapatan dari konstruksi serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi mengalami penurunan tipis 4,4% YoY menjadi Rp755,0 miliar, tetapi tetap menjadi penyumbang utama.

Dari segi bottom line, laba bersih BACH pada 2025 melonjak hampir dua kali lipat, yakni sebesar 97,5% YoY menjadi Rp155,5 miliar. Analis juga menyoroti metrik profitabilitas yang solid, dengan return on equity (ROE) di angka 20%, lebih tinggi dari rata-rata industri sebesar 6%. 

Sementara itu, net profit margin BACH yang naik dari 6% menjadi 9% pada 2025, melampaui rata-rata industri yang berada di level 2%.

Melihat prospek usaha ke depan, BACH memproyeksikan pendapatan bakal naik dari Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi Rp3,04 triliun pada 2030, yang mencerminkan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 12%. Di sisi lain, laba bersih diperkirakan meningkat 158% menjadi Rp401 miliar.

"Pertumbuhan diperkirakan akan didorong oleh ekspansi segmen kelistrikan dengan tambahan kapasitas hingga 50 MW per tahun, serta segmen telekomunikasi melalui proyek infrastruktur dan sumber pendapatan berulang (recurring revenue streams)," tulis analis, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Nilai angka ini mencerminkan proyeksi kenaikan margin laba bersih dari 9% menjadi 13,2% pada 2030. Analis menganggap poin ini menjadi modal krusial yang menopang pertumbuhan laba jangka panjang BACH.

Sementara itu, jika mengamati valuasi saham yang ditawarkan dalam IPO, analis menerangkan bahwa harga penawaran IPO yang berada dalam rentang Rp400–500 mengimplikasikan rasio price to earnings (PE) sebesar 10–13 kali, atau lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 28 kali, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Namun, dari rasio price to book value (PBV), harga IPO BACH berada di angka 2,1–2,4 kali, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 1,8 kali. 

Sedangkan untuk rasio price to sales (P/S) bertengger di angka 0,9–1,2 kali, lebih rendah daripada rata-rata industri di level 1,3 kali.

Artinya, valuasi IPO BACH tampak memikat karena diperdagangkan dengan diskon terhadap industri dari sudut pandang earnings dan sales, sedangkan premium PBV mencerminkan ekspektasi terhadap profitabilitas serta pertumbuhan.

Tetapi penting dicatat, analis juga memaparkan faktor-faktor yang dapat menjadi risiko, di antaranya ketergantungan pada pemasok genset, ketatnya persaingan industri, piutang usaha yang tidak tertagih, perubahan kebijakan pemerintah/PLN, hingga faktor konsolidasi industri menara telekomunikasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Di samping itu, terdapat pula risiko ketergantungan terhadap pertumbuhan pembangunan menara baru, kegagalan dalam memenuhi persyaratan SLA, fluktuasi nilai tukar valuta asing, tekanan ekonomi makro serta ekonomi global, sengketa hukum, perubahan regulasi, hingga risiko terkait volatilitas harga saham, likuiditas saham, dan ketidakpastian pembayaran dividen.

"Seluruh faktor tersebut dapat berdampak negatif terhadap kinerja operasional perusahaan, kondisi keuangan, serta daya tarik investasi secara keseluruhan," tegasnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan