Breaking

Harga Kontrak Berjangka CPO Kembali Merangkak Naik di Bursa BMD

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 11 Juni 2026
Harga Kontrak Berjangka CPO Kembali Merangkak Naik di Bursa BMD
ILUSTRASI, minyak sawit (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Sebagian besar harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merangkak naik kembali pada Rabu (10/6/2026), menyusul penurunan tajam yang terjadi pada hari yang lalu. 

Pergerakan positif ini didorong oleh melemahnya nilai mata uang ringgit Malaysia serta kenaikan harga minyak kedelai di pasar internasional, walaupun percepatan penguatannya terhambat oleh prediksi ekspor yang masih belum bertenaga.

Berdasarkan data penutupan dari pihak BMD pada Rabu (10/6/2026), nilai kontrak berjangka CPO untuk masa Juni 2026 merosot sebesar 4 Ringgit Malaysia menjadi 4.450 Ringgit Malaysia per ton. 

Sebaliknya, nilai kontrak berjangka CPO untuk masa Juli 2026 justru meningkat 4 Ringgit Malaysia hingga berada di level 4.498 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, untuk kontrak berjangka CPO masa Agustus 2026 terpantau mengalami kenaikan sebesar 10 Ringgit Malaysia ke level 4.538 Ringgit Malaysia per ton. Begitu pula dengan nilai kontrak berjangka CPO untuk masa September 2026 yang terkerek naik 12 Ringgit Malaysia menuju 4.578 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, untuk kontrak berjangka CPO masa Oktober 2026 mengalami penguatan senilai 12 Ringgit Malaysia ke angka 4.615 Ringgit Malaysia per ton. Adapun untuk kontrak berjangka CPO masa November 2026 juga ikut melonjak sebesar 12 Ringgit Malaysia menuju posisi 4.649 Ringgit Malaysia per ton.

Berdasarkan data Tradingview, pergerakan naik harga CPO ini mendapatkan sokongan dari terdepresiasinya kurs ringgit Malaysia serta tren kenaikan harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago. Namun demikian, sentimen positif tersebut harus tertahan oleh koreksi nilai minyak nabati alternatif yang diperdagangkan di Bursa Dalian, China.

Para pelaku pasar terlihat mengambil langkah aman sambil menunggu pengumuman data resmi terkait sektor industri kelapa sawit. Hasil survei dari Reuters memperkirakan bahwa persediaan minyak sawit di Malaysia berpotensi meningkat lagi pada Mei, yang dipicu oleh performa ekspor yang melemah melebihi penurunan kuantitas produksi.

Permintaan Pulih

Dilihat dari sisi penyerapan pasar, kegiatan impor dari India sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap setelah sempat menyentuh level terendah dalam waktu empat bulan pada April kemarin. Meski demikian, jumlah permintaan tersebut dinilai masih berada di bawah catatan rata-rata historisnya.

Di sisi lain, Indonesia sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia tengah menerapkan aturan teknis baru untuk memperketat pengawasan terhadap ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit. Kebijakan pembatasan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan eksportir dan berpeluang mengalihkan sebagian porsi permintaan ke pasar Malaysia.

Walau begitu, perkiraan arus ekspor untuk komoditas minyak sawit tetap dihadapkan pada tantangan yang cukup berat. 

Berdasarkan informasi dari lembaga pemantau kargo, volume pengiriman minyak sawit dari Malaysia sepanjang bulan Mei diperkirakan turun berkisar 8,8% hingga 15,5% jika dibandingkan dengan perolehan pada April. Keadaan ini menjadi petunjuk bahwa penyerapan oleh pasar global masih cenderung lemah, sehingga berpotensi menahan laju peningkatan harga CPO dalam jangka pendek.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua