Breaking

Nilai Emas Global Minus 1,18 Persen tapi Berpotensi Rebound

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 22 Juni 2026
Nilai Emas Global Minus 1,18 Persen tapi Berpotensi Rebound
Ilustrasi Emas (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Nilai tukar emas global tampak mengawali momentum kebangkitan usai bertahan pada zona sokongan penting di dekat titik terendah sepanjang tahun ini.

Senior Technical Strategist Forex.com Michael Boutros berpandangan, situasi tersebut memicu kans terciptanya titik jenuh jual yang berpotensi memicu fase kenaikan anyar. 

Kendati demikian, bursa masih menantikan publikasi data inflasi Amerika Serikat pada pekan depan yang diproyeksikan bakal mendikte tren pergerakan emas selanjutnya. Nilai komoditas emas ditutup merosot 1,18% ke posisi US$ 4.160,26 per ons troi.

Boutros memaparkan, nilai emas saat ini tengah bertahan di atas zona sokongan penting yang berada dekat dengan titik terendah tahunannya. 

Kendati sempat melewati batas tersebut, tekanan aksi jual belum sanggup membuat penutupan mingguan berada di bawah level kunci dimaksud. 

Menurut dia, situasi ini membuka kans terciptanya fase ‘exhaustion low’ atau titik jenuh penurunan, yang kerap menjadi indikator awal pembalikan tren nilai jual.

"Risiko terbentuknya titik terendah yang lebih signifikan semakin meningkat setelah penjual gagal mempertahankan harga di bawah area support utama," sebagaimana dilansir dari berita sumber tulis Boutros dalam analisis terbarunya.

Boutros berpendapat, nilai emas saat ini juga tengah menguji zona sokongan tren jangka panjang yang berimpitan dengan rata-rata pergerakan 52 minggu (52-week moving average). 

Zona tersebut dinilai menjadi titik persaingan krusial antara pelaku pasar yang bersikap pesimistis dan pemodal yang mulai memanfaatkan momentum harga murah. 

Boutros menitikberatkan zona US$ 4.074-4.112 per ons troi sebagai area sokongan utama yang menentukan tren nilai emas untuk jangka pendek hingga menengah.

Selama posisinya kokoh di atas zona tersebut, lanjut dia, kans terjadinya rebound dinilai masih ada. Sebaliknya, bila nilai emas ditutup mingguan di bawah level US$ 4.074 per ons troi, aksi jual berpotensi berlanjut menuju zona sokongan berikutnya di kisaran US$ 3.887 per ons troi.

“Di sisi lain, area resistance terdekat berada pada level US$ 4.319 per ons troi. Namun, zona yang paling krusial berada pada kisaran US$ 4.493-4.540 per ons troi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber jelas Boutros.

Menurutnya, penembusan serta penutupan mingguan di atas zona tersebut bakal menjadi indikator kuat bahwa tren pelemahan mulai usai dan nilai emas berpeluang memasuki fase penguatan yang lebih masif. 

Apabila sanggup melewati level tersebut, target penguatan berikutnya diprediksi berada pada zona puncak April hingga rekor tertinggi sebelumnya di rentang US$ 4.890-4.894 per ons troi.

Boutros menambahkan, para pelaku pasar saat ini tengah menantikan rangkaian data ekonomi krusial AS yang berpeluang menjadi stimulan pergerakan nilai emas. 

Fokus utama mengarah pada data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) edisi Mei yang bakal dipublikasikan Kamis (25/6/2026). Parameter ini merupakan acuan inflasi utama bagi The Fed dalam memformulasikan arah kebijakan suku bunga.

Dalam konferensi pers teranyar, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas harga. Sementara itu, kalkulasi ekonomi terbaru memperlihatkan inflasi AS pada 2026 diprediksi masih bertahan di tingkat yang cukup tinggi. 

Situasi tersebut memicu penguatan ekspektasi pasar bahwa The Fed berpeluang menerapkan kebijakan moneter ketat dalam durasi yang lebih lama dari estimasi sebelumnya. 

Saat ini, pasar suku bunga mengalkulasikan probabilitas sekitar 70% terhadap peningkatan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang.

Walaupun prospek inflasi yang lebih tinggi secara historis cenderung menyokong nilai emas selaku instrumen lindung nilai, apresiasi dolar AS masih menjadi palang penghambat utama bagi logam mulia tersebut.

Indeks dolar AS (DXY) terus menguat dan mencetak rekor tertinggi tahun ini seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. 

Apresiasi dolar memicu emas menjadi lebih mahal bagi para pemodal yang bertransaksi dengan mata uang lain, sehingga menahan laju permintaan.

Di sisi lain, nilai minyak global juga telah merosot lebih dari 38% dari titik puncaknya tahun ini menyusul tercapainya konsensus antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran atas kendala pasokan di Selat Hormuz.

Menurut Boutros, apabila data inflasi AS pekan depan melampaui estimasi pasar, tekanan terhadap emas berisiko kembali menanjak. Namun, selama area sokongan utama masih sanggup bertahan, peluang pemulihan nilai emas tetap terbuka.

"Posisi jual perlu dilakukan dengan hati-hati pada level saat ini karena risiko terbentuknya titik balik harga semakin meningkat," sebagaimana dilansir dari berita sumber ujar Boutros.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua