Breaking

Pabrik Baru Beroperasi, NEST Siap Lipat Gandakan Produksi Walet

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 26 Juni 2026
Pabrik Baru Beroperasi, NEST Siap Lipat Gandakan Produksi Walet
ILUSTRASI, PT Esta Indonesia Tbk optimalkan teknologi IoT untuk pengelolaan rumah burung walet secara real time. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – PT Esta Indonesia Tbk. (NEST) membidik lonjakan kapasitas produksi sarang burung walet hingga dua kali lipat pada akhir tahun 2026 mendatang. Langkah strategis ini sejalan dengan mulai beroperasinya fasilitas produksi baru yang terletak di Demak, Jawa Tengah.

Direktur Utama Esta Indonesia Anton Siswanto Hoo menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas tersebut merupakan bagian dari langkah perseroan dalam menangkap pertumbuhan permintaan ekspor. 

Terlebih, pasar China hingga saat ini masih menjadi tujuan utama bagi komoditas sarang burung walet asal Indonesia.

"Dengan beroperasinya fasilitas produksi yang baru di Demak, NEST memperkirakan kapasitas produksi akan bertumbuh dua kali lipat pada akhir tahun 2026," ujar Anton dalam Paparan Publik, Kamis (25/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menilai ekspansi kapasitas produksi ini wajib diimbangi dengan penguatan pada sektor rantai pasok. Hal tersebut sangat krusial agar seluruh fasilitas produksi milik perseroan mampu berjalan secara optimal.

"Tentunya fasilitas produksi perusahaan tidak akan optimal apabila manajemen tidak memperhatikan rantai pasok, baik dari segi kuantitas maupun kualitas," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Sebagai langkah konkret dalam memperkuat pasokan bahan baku, NEST kini mengembangkan sistem pengelolaan rumah burung walet yang terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT). 

Melalui teknologi digital ini, perusahaan dapat memantau suhu sekaligus kelembapan di dalam rumah burung secara real time demi menjaga kondisi mikroklimat ideal yang diperlukan oleh burung walet.

Saat ini, penerapan teknologi IoT tersebut telah berjalan di 15 rumah burung walet milik perseroan. Ke depannya, implementasi teknologi ini akan diperluas ke para pemilik rumah burung walet yang menjadi mitra strategis perusahaan di berbagai wilayah di Indonesia.

Anton memaparkan bahwa data-data yang dikumpulkan melalui teknologi IoT tersebut akan dijadikan sebagai fondasi utama dalam pengelolaan rumah burung. 

Implementasi ini diharapkan dapat mendongkrak produktivitas sekaligus mempertahankan standar kualitas hasil panen. Ia menambahkan bahwa Indonesia mempunyai jutaan rumah burung walet yang menyimpan potensi besar untuk dioptimalkan melalui sentuhan teknologi serta manajemen tata kelola yang lebih modern.

Dari sisi permintaan, perseroan mengaku tetap optimistis melihat prospek cerah industri hilir sarang burung walet. Anton mencermati bahwa tren konsumsi sarang burung walet di China terus mengalami pergeseran positif. 

Produk tersebut kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai makanan premium, melainkan sudah mulai dikategorikan sebagai bagian dari produk kesehatan (wellness product).

Ia mengungkapkan bahwa komoditas sarang burung walet yang dikemas dalam bentuk minuman siap konsumsi (ready-to-drink) saat ini kian populer dan diterima oleh masyarakat luas. 

Produk tersebut telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup konsumen, sehingga membuka ceruk pasar baru yang jauh lebih luas bagi perseroan.

Kendati demikian, tren pertumbuhan yang pesat ini juga mendatangkan tantangan tersendiri bagi para pelaku eksportir dalam menjaga kualitas produk agar tetap selaras dengan standar keamanan pangan internasional yang ketat. 

Produk ekspor yang dikirimkan oleh NEST tidak hanya harus memenuhi kriteria fisik seperti bentuk, warna, dan berat, tetapi juga wajib lolos uji kadar kandungan protein hingga ambang batas logam berat serta kontaminan lainnya.

Rasa optimisme terhadap keberlanjutan bisnis ini turut ditopang oleh pemulihan performa keuangan perseroan pada awal tahun ini. 

Setelah sempat membukukan penurunan laba bersih sebesar 26,59% sepanjang tahun 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, NEST sukses membalikkan keadaan dengan mencetak pertumbuhan laba bersih mencapai 38% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I/2026.

Pihak perseroan meyakini penuh bahwa momentum pemulihan kinerja keuangan ini akan terus terjaga sepanjang tahun 2026. Hal tersebut didorong oleh kuatnya permintaan pasar ekspor serta sokongan kapasitas produksi tambahan dari pabrik baru mereka di Demak.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua