Breaking

Kinerja MDKA MBMA dan EMAS Melesat Didorong Harga Emas yang Tinggi

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 02 Juli 2026
Kinerja MDKA MBMA dan EMAS Melesat Didorong Harga Emas yang Tinggi
Ilustrasi: Grup Merdeka mencatat laba bersih US$ 57,5 juta pada kuartal I-2026 didorong harga emas dan produksi tambang. (Foto: NET)

JAKARTA – Perkembangan performa perusahaan-perusahaan di bawah bendera Grup Merdeka menunjukkan pertumbuhan positif pada triwulan pertama tahun 2026, yang dipicu oleh mulai berjalannya proyek-proyek andalan dan peningkatan nilai jual komoditas. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berhasil membukukan total pendapatan konsolidasi mencapai angka US$ 620,3 juta, mengalami pertumbuhan sebesar 24 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

EBITDA yang diraih oleh MDKA pun melonjak hingga 182 persen secara tahunan hingga menyentuh US$ 249,9 juta, dengan perolehan keuntungan bersih yang berada di angka US$ 57,5 juta. 

Komoditas emas menjadi penyumbang paling dominan terhadap EBITDA perseroan, yang kemudian disusul oleh pendapatan dari Nickel Pig Iron (NPI), limonit, High-Grade Nickel Matte (HGNM), serta logam tembaga.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, mengungkapkan bahwa pencapaian yang kokoh ini didorong oleh apresiasi harga komoditas emas, volume dari penjualan limonit, tingkat margin nikel, beserta hasil penjualan awal dari proyek Tambang Emas Pani. "Kinerja ini menunjukkan ketahanan portofolio perusahaan yang terdiversifikasi dan mencerminkan fokus kami yang berkelanjutan pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, serta pengembangan platform pertumbuhan utama di sektor emas, nikel, dan tembaga,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, entitas anak usaha dari MDKA, yaitu PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), mengumumkan kenaikan total pemasukan sebesar 24 persen menjadi sebesar US$ 455,1 juta. 

MBMA pun sukses membalikkan keadaan dengan meraup laba bersih bernilai US$ 29,9 juta, setelah pada periode sebelumnya sempat mengalami kerugian.

Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengumpulkan pendapatan sebesar US$ 2,6 juta di tengah proses peralihan Tambang Emas Pani menuju tahapan produksi secara komersial. 

Walaupun demikian, EMAS tercatat masih mengalami kerugian bersih mencapai US$ 10,9 juta akibat adanya pengeluaran operasional pada tambang baru tersebut beserta beban keuangan yang mesti ditanggung.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, berpandangan bahwa lonjakan performa MDKA ditopang oleh tingginya harga jual emas di pasar serta andil dari Tambang Emas Pani. "Ke depannya, Pani justru bisa menjadi katalis utama apabila ramp-up produksi berjalan sesuai target,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyebutkan bahwa prospek performa pada paruh kedua tahun 2026 mendatang akan sangat bergantung pada kestabilan pergerakan harga emas serta persoalan terkait melimpahnya pasokan nikel di pasar. "Sentimen positif emiten-emiten ini antara lain progres ramp-up kapasitas Pani dan potensi harga emas yang masih tinggi, sedangkan sentimen negatifnya adalah oversupply nikel dan EMAS yang masih butuh waktu untuk mencapai breakeven,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan peringatan mengenai potensi risiko pembengkakan biaya pendanaan yang disebabkan oleh tingginya suku bunga acuan, terutama bagi emiten-emiten yang sedang aktif melakukan ekspansi. "Proyek strategis Grup Merdeka mesti selesai tepat waktu agar segera berkontribusi terhadap pendapatan,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Mengenai strategi investasi, saham MDKA mendapatkan rekomendasi berupa buy on weakness, saham MBMA direkomendasikan untuk trading buy, dan saham EMAS diposisikan sebagai opsi speculative buy dengan tingkat risiko yang tergolong tinggi. 

Para pemodal direkomendasikan untuk memperhatikan pergerakan saham MDKA serta MBMA, dengan target nilai harga masing-masing dipatok pada posisi Rp 3.000 dan Rp 600 per lembar saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua