Chandra Asri dan Bakrie Power Garap Proyek Waste to Energy Danantara

ILUSTRASI, Proyek waste-to-energy Serang Raya akan mengolah sampah hingga 1.161 ton per hari. (Sumber Gambar : Net)
Kamis, 16 Juli 2026 | 12:33:43 WIB

JAKARTA – Keterlibatan Grup Bakrie dan Grup Barito kepunyaan Prajogo Pangestu pada proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang diinisiasi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menandai babak baru strategi kedua kelompok bisnis tersebut untuk mengepakkan sayap di sektor energi. Melalui entitas PT Bakrie Power serta PT Chandra Waste Energy, kedua konglomerasi ini resmi merambah lini bisnis waste-to-energy, sebuah sektor yang memadukan manajemen limbah dengan pembuatan energi bersih. Langkah taktis ini melengkapi lini bisnis energi yang telah dibangun oleh masing-masing grup, sekaligus menjadi bentuk nyata dalam merespons potensi dari tren transisi energi serta ekonomi sirkular di tanah air.

BPI Danantara melalui PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) sebelumnya telah merilis delapan korporasi yang memenangkan tender proyek PSEL tahap II.

Dari daftar pemenang tersebut, dua korporasi di antaranya terafiliasi dengan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) kepunyaan Prajogo Pangestu dan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) milik keluarga Bakrie.

Rekam Jejak Chandra Waste Energy

Perusahaan di bawah naungan TPIA yang lolos adalah PT Chandra Waste Energy. Korporasi ini bergabung dalam konsorsium Masa Depan Energi Indonesia bersama Beijing GeoEnviron Engineering and Tech Inc. 

Merujuk pada laporan tahunan TPIA edisi 2025, PT Chandra Waste Energy sebelumnya menggunakan nama PT Chandra Global Maritim (CGM). 

Korporasi tersebut didirikan pada 2025 dan pada awalnya beroperasi di sektor transportasi laut sebelum akhirnya bergeser fokus ke bidang pengelolaan sampah menjadi energi.

PT Chandra Waste Energy bertindak selaku anak usaha tidak langsung TPIA dengan porsi kepemilikan efektif sebesar 100 persen. Berdasarkan laporan keuangan triwulan I/2026 yang belum diaudit, akumulasi aset korporasi ini sebelum eliminasi baru berkisar US$12.000. 

Jumlah aset yang tergolong minim tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan ini memang masih berada dalam fase pengembangan sebelum nantinya aktif secara komersial.

Bersama rekan konsorsiumnya, PT Chandra Waste Energy bakal mengeksekusi proyek PSEL Serang Raya yang diproyeksikan memiliki kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.161 ton per hari.

Korporasi ini bertempat di Wisma Barito Pacific Tower A, Lantai 7, Jalan Letjen S. Parman Kav. 62–63, Jakarta.

Bila ditinjau secara grup, TPIA sekarang mengoperasikan tiga lini bisnis utama, yaitu energi, kimia, serta infrastruktur. Pada lini infrastruktur, cakupan bisnisnya meliputi penjualan daya listrik, jasa kelistrikan, penyewaan tangki sekaligus dermaga, hingga layanan pelayaran. 

Di triwulan I/2026, lini infrastruktur menjadi penyumbang pemasukan paling mini dengan perolehan US$87,50 juta, meskipun angka ini tumbuh dari posisi US$52,01 juta pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Walau sumbangsihnya masih terhitung kecil, langkah Chandra Asri untuk masuk ke ranah energi ramah lingkungan sebetulnya telah dimulai mendahului proyek PSEL Danantara. 

Pada Agustus 2025, grup ini mulai menerapkan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai substitusi bahan bakar melalui metode co-firing pada boiler batu bara di area Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Banten. 

RDF ini menyubstitusi sekitar 5 persen dari total kebutuhan bahan bakar boiler lewat volume pemanfaatan yang menyentuh 60,33 ton sampah per Juli 2025. 

Melalui langkah ini, reduksi emisi karbon diproyeksikan mampu menyentuh 29,63 ton CO2 ekuivalen. Partisipasi Chandra Waste Energy dalam proyek PSEL Danantara pun menjadi kelanjutan berkesinambungan dari strategi tersebut.

Direktur Legal & Hubungan Eksternal TPIA Edi Riva'i menerangkan bahwa pihak konsorsium bakal mematuhi tiap tingkatan proses yang sudah diatur sesudah dinyatakan keluar sebagai pemenang tender, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Konsorsium akan mengikuti seluruh tahapan yang ditetapkan Danantara sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik," tutur Edi, Selasa (15/7/2026).

Edi menguraikan bahwa PT Chandra Waste Energy merupakan unit bisnis yang posisinya berada langsung di bawah PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA). CDIA sendiri ialah anak usaha TPIA yang memegang kendali atas bisnis infrastruktur dengan porsi kepemilikan berkisar 60 persen.

Pada kesempatan berbeda, Head of Corporate Communications Chandra Asri Group Chrysanthi Tarigan menyampaikan bahwa ekspansi bisnis merupakan bagian krusial dari strategi jangka panjang korporasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Dalam konteks tersebut, pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy) merupakan salah satu inisiatif yang sejalan dengan komitmen perseroan dalam mendukung ekonomi sirkular dan pengembangan solusi yang lebih berkelanjutan," ujar Chrysanthi.

Menurutnya, keterlibatan pada proyek PSEL Danantara ini merupakan wujud riil dalam menyokong program pemerintah guna memperluas penggunaan energi bersih.

"Terkait tahapan pengembangan proyek, konsorsium akan mengikuti tahapan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Danantara," ucapnya menutup pembicaraan.

Langkah Bakrie Memperluas Diversifikasi Energi

Apabila Chandra Asri memosisikan proyek PSEL sebagai elemen dari strategi ekonomi sirkular, Grup Bakrie memandang sektor ini sebagai prospek diversifikasi bisnis energi jangka panjang. 

Grup Bakrie bergerak lewat PT Bakrie Power yang melebur ke dalam konsorsium Mentari Citra Lestari bersama PT Acritas Karya Persada dan SUS Indonesia Holding Limited.

PT Bakrie Power berstatus sebagai anak usaha tidak langsung BNBR melalui PT Bakrie Metal Industries (BMI) dengan porsi kepemilikan dominan mencapai 99,99 persen. 

Berdiri sejak tahun 1994, korporasi ini fokus pada industri pembangkit listrik. Di sisi lain, BMI merupakan unit bisnis Grup Bakrie yang berkonsentrasi pada lini manufaktur serta infrastruktur. 

Sepanjang tahun 2025, lini tersebut menjadi penyumbang terbesar bagi pendapatan konsolidasi BNBR dengan torehan Rp3,11 triliun, kendati nominal ini terkoreksi dari perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp3,47 triliun.

Dilihat dari aspek keuntungan, lini manufaktur dan infrastruktur justru membukukan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp571,74 miiliar pada tahun 2025 dari posisi Rp355,56 miliar pada tahun sebelumnya.

Melalui proyek PSEL Danantara ini, PT Bakrie Power bersama mitranya dalam konsorsium bakal membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi untuk wilayah Surabaya Raya dengan daya tampung sebesar 1.100 ton per hari. 

Proyek ini kian memperkaya portofolio sektor pembangkitan listrik yang sebelumnya telah digarap oleh Bakrie Power, mulai dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), sampai proyek engineering, procurement, and construction pembangkit listrik tenaga surya (EPC PV).

Direktur Utama & CEO PT Bakrie Power Ronald Nehemia Sinaga mengemukakan bahwa proyek waste-to-energy ini dipandang sebagai salah satu motor pertumbuhan yang baru, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Kami sangat antusias untuk berkolaborasi dengan pemerintah, Danantara dan pemangku kepentingan dalam menyelesaikan tantangan pengelolaan sampah perkotaan dan transisi energi di Indonesia," jelas Ronald, Selasa (14/7/2026).

Ronald menambahkan, pasca-ditetapkan sebagai pemenang tender, konsorsium bakal melangkah ke fase berikutnya bersama Danantara.

"Mengenai jadwal pembangunan dan target operasi komersial, saat ini masih dalam tahap pembahasan dan penyelarasan bersama para pemangku kepentingan terkait. Perseroan akan menyampaikan informasi lebih lanjut setelah terdapat keputusan dan kepastian mengenai tahapan implementasi proyek," sebutnya.

Potensi Kredit Karbon dari Proyek PSEL

Nilai ekonomi dari proyek PSEL ini sejatinya tidak melulu bertumpu pada penjualan daya listrik dari hasil konversi sampah. Danantara turut membuka jalan agar fasilitas waste-to-energy yang kelak beroperasi bisa memproduksi kredit karbon untuk diperjualbelikan di pasar karbon.

CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) Fadli Rahman memaparkan bahwa kredit karbon yang bersumber dari proyek waste-to-energy mempunyai nilai yang tergolong tinggi di pasar karbon. 

Oleh karena itu, Danantara berancang-ancang memacu aktivitas perdagangan kredit karbon begitu fasilitas PSEL tersebut resmi beroperasi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Carbon credit dari proyek WtE itu salah satu yang bernilai tinggi sebenarnya. Jadi pasti itu akan kami dorong [perdagangannya] nanti setelah [PSEL] ini beroperasi," ungkap Fadli di Wisma Danantara Indonesia, Senin (13/7/2026).

Fadli menilai bahwa fasilitas PSEL memiliki kapabilitas untuk mereduksi emisi hingga kisaran 80 persen jika disandingkan dengan sistem open dumping.

Tiap satu ton sampah yang diproses dengan sistem ini diproyeksikan dapat menghasilkan sekitar 1,8 ton setara karbon (CO2e) per tahun. Berkat pemanfaatan teknologi PSEL, tingkat emisi tersebut mampu ditekan menjadi sekitar 0,35 ton CO2e sebelum melewati proses penyaringan.

"With penyaringan, penurunan emisinya bisa lebih besar," urai Fadli.

Selaras dengan agenda itu, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) sekarang ini juga sedang merumuskan regulasi berikut peta jalan untuk perdagangan karbon pada sektor limbah selaku bagian dari penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Plt. Direktur Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH Haryo Pambudi mengemukakan bahwa sektor limbah menyimpan potensi yang masif demi menyokong target reduksi emisi nasional sekaligus memicu nilai ekonomi lewat mekanisme perdagangan karbon, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

"Kami sedang menyiapkan peraturan dan juga peta jalan perdagangan karbon di sektor limbah yang nantinya akan menjadi bagian penting dari peta jalan perdagangan karbon nasional. Karena itu, masukan dari pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan para pemangku kepentingan sangat penting untuk memastikan kebijakan yang disusun dapat diimplementasikan secara efektif dan memberikan manfaat yang optimal," ucap Haryo menjelaskan.

Reporter: Gemilang Ramadhan