Kawasan Kendal Jadi Motor Utama KIJA Kejar Target Marketing Sales

ILUSTRASI, Kawasan Industri Kendal menjadi fokus utama PT Jababeka Tbk. dalam mengejar target marketing sales 2026. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 17 Juli 2026 | 15:19:28 WIB

JAKARTA – PT Jababeka Tbk. (KIJA) tetap memiliki keyakinan kuat untuk meraih target prapenjualan atau marketing sales senilai Rp3,75 triliun di sepanjang tahun 2026 ini, kendati situasi perekonomian global masih dipenuhi oleh ketidakpastian. Perusahaan merasa yakin bahwa prospek dari daftar calon investor yang kuat serta besarnya ketertarikan terhadap Kawasan Industri Kendal bakal menjadi motor penggerak utama dalam merealisasikan target tersebut.

Corporate Secretary KIJA, Mulyadi Suganda, mengutarakan bahwa hingga periode kuartal I/2026, perolehan marketing sales telah menyentuh kisaran Rp540 miliar atau setara dengan 14% dari target keseluruhan tahun ini. 

Walakin, ia menilai pencapaian itu belum bisa memperlihatkan gambaran performa untuk sepanjang tahun. 

Hal ini disebabkan oleh keputusan berinvestasi, khususnya bagi para pemodal asing, yang amat bergantung pada dinamika ekonomi global beserta kebijakan dari korporasi induk di negara asal masing-masing penanam modal.

"Walaupun secara persentase baru sekitar 14%, itu tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan. Kalau melihat pengalaman historis, pola pencapaiannya memang seperti itu," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber, dikutip pada Kamis (16/7/2026).

Mulyadi memaparkan, porsi terbesar dari target marketing sales tahun ini diproyeksikan bersumber dari Kawasan Industri Kendal dengan andil sekitar Rp2,5 triliun, sementara untuk sisanya ditargetkan berasal dari kawasan industri Jababeka yang terletak di Cikarang.

Ia menguraikan bahwa permintaan terhadap lahan industri sejauh ini masih dipimpin oleh penanam modal asing, terutama yang berasal dari China serta beberapa negara di kawasan Asia lainnya. 

Sektor-sektor usaha yang terbilang paling dinamis bergerak di antaranya mencakup consumer goods, pertekstilan, pusat data (data center), industri baterai, hingga penyedia bahan bangunan.

Menurut dia, daya pikat utama yang ditawarkan oleh Kawasan Industri Kendal terletak pada ekosistem industrinya yang kini dinilai semakin matang. 

Adanya para tenant yang sudah aktif beroperasi ikut memicu datangnya arus investasi lanjutan sekaligus mengokohkan rantai pasok industri di dalam area tersebut.

"Kami masih melihat pipeline calon investor cukup sehat. Karena itu, kami tetap optimistis target marketing sales tahun ini dapat tercapai," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping memprioritaskan penjualan pada lahan-lahan industri, Jababeka juga terus menggenjot kontribusi dari sektor bisnis infrastruktur demi menjadi sumber pertumbuhan korporasi dalam jangka panjang. 

Hingga saat ini, tercatat dari total 139 tenant yang telah membeli lahan di Kawasan Industri Kendal, sebanyak 50 tenant di antaranya sudah mulai menjalankan operasionalnya.

Situasi ini pun membuka peluang bagi perusahaan untuk mendulang peningkatan pendapatan melalui penyediaan fasilitas utilitas serta beragam pelayanan infrastruktur lainnya sejalan dengan kian bertambahnya jumlah tenant yang memulai aktivitas operasional mereka.

Ke depannya, pihak perseroan bakal terus memacu akselerasi transformasi bisnisnya mengarah pada model usaha yang dapat menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) agar performa keuangan korporasi menjadi jauh lebih stabil serta berkelanjutan.

Apabila ditinjau dari aspek kinerja keuangan, KIJA mencatatkan perolehan pendapatan sebesar Rp1,19 triliun pada kuartal I/2026, atau mengalami sedikit penurunan jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,29 triliun. 

Pihak manajemen memberikan penjelasan bahwa penurunan nilai tersebut sama sekali bukan dikarenakan oleh melemahnya kondisi fundamental bisnis korporasi, melainkan murni akibat adanya perbedaan waktu dalam pengakuan pendapatan (timing difference) yang berkaitan dengan proses serah terima proyek.

Namun di sisi lain, tingkat profitabilitas perusahaan justru memperlihatkan adanya tren perbaikan. 

Nilai laba neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpantau meningkat menjadi Rp57,78 miar pada kuartal I/2026, naik bila dibandingkan dengan perolehan sebesar Rp43,24 miliar pada periode yang sama di tahun yang lalu.

Reporter: Gemilang Ramadhan