Harga Emas Naik 1,2 Persen akibat Ketegangan Geopolitik dan The Fed

Ilustrasi emas dunia (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 21 Juli 2026 | 20:15:34 WIB

JAKARTA – Harga emas dunia mengalami kenaikan lebih dari 1% pada Selasa (21/7/2026) karena para pelaku pasar memantau upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah diplomasi ini dianggap berpotensi menahan laju inflasi akibat kenaikan harga minyak sekaligus memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Harga emas spot terpantau meningkat 1,2% menuju posisi US$ 4.054,24 per ons troi pada pukul 12.29 WIB. Pada saat yang sama, kontrak berjangka emas AS pengiriman Agustus menguat 1,1% ke level US$ 4.059,10 per ons troi.

Kepala Makro Global Tastylive, Ilya Spivak, menyebutkan pergerakan harga emas memperlihatkan usaha untuk membina fondasi baru di kisaran level US$ 4.000 per ons sebelum meneruskan tren kenaikan.

“Emas tampaknya sedang mencari titik dasar di sekitar level ini dan mencoba kembali bergerak naik,” ujar Spivak sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Spivak, dinamika kabar dari kawasan Timur Tengah masih memberi dampak bagi kondisi pasar, walaupun fokus investor atas persoalan tersebut mulai menyusut dan dampaknya relatif singkat.

Di sektor energi, harga minyak justru bergerak melemah pada Selasa setelah para pelaku pasar menimbang kabar mengenai mediasi antara AS dan Iran. Meski demikian, kecemasan tetap ada menyusul aksi saling serang susulan antar kedua belah pihak serta ancaman pemblokiran jalur laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman.

Seorang pejabat tinggi Iran menyampaikan kepada Reuters pada Senin Teheran telah menerima proposal dari pihak mediator mengenai gencatan senjata selama 10 hari. Rencana tersebut disusun guna menjaga kesepakatan sementara serta melapangkan jalan ke kesepakatan permanen untuk menyudahi konflik.

Sebelumnya, memanasnya perselisihan di kawasan Timur Tengah sempat memicu harga minyak melonjak ke posisi tertinggi dalam durasi lebih dari satu bulan pada Senin. Keadaan itu mendorong sejumlah penentu kebijakan AS menyuarakan potensi perlunya penaikan suku bunga guna menekan laju inflasi yang masih membumbung.

Langkah peningkatan suku bunga umumnya menjadi beban bagi emas lantaran memperbesar biaya peluang dalam memegang komoditas tanpa imbal hasil seperti logam mulia. Walau begitu, pasar memprediksi The Fed tetap mempertahankan tingkat suku bunga pada rapat pekan depan.

Merujuk pada CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sebesar 64% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.

Di samping emas, nilai logam mulia yang lain turut merambat naik. Harga perak spot menanjak 2,8% menjadi US$ 57,99 per ons, platinum terkerek 1% ke US$ 1.610,06 per ons, sementara paladium melaju 1,2% menjadi US$ 1.267,68 per ons.

Arah pergerakan pasar logam mulia pada waktu mendatang masih akan dipengaruhi oleh dinamika konflik geopolitik, pergerakan harga minyak, hingga petunjuk arah kebijakan moneter dari The Fed.

Reporter: Akbar