Biaya Produksi Baterai EV Turun, Harga Mobil Listrik Naik 42 persen

Ilustrasi kendaraan listrik (Sumber : NET)
Penulis: Akbar
Selasa, 21 Juli 2026 | 00:17:37 WIB

JAKARTA – Industri kendaraan listrik di tingkat global sedang mengalami paradoks yang cukup membingungkan. Di satu sisi biaya pembuatan baterai beserta komponen utamanya turun signifikan, tetapi harga jual di showroom justru membengkak hingga 42% dalam lima tahun terakhir.

Kondisi ini terlihat amat jelas di pasar Jerman yang menjadi indikator otomotif kawasan Eropa. Berdasarkan data International Council on Clean Transportation (ICCT), meski harga individual model listrik turun 18% secara riil antara 2020 hingga 2025, median harga mobil listrik di showroom malah naik dari €38.000 pada 2020 menjadi €54.000 pada 2025.

Hal tersebut terjadi saat pangsa pasar kendaraan listrik di Jerman mencatatkan angka positif sebesar 19,1% pada akhir 2025 usai tertekan akibat pangkasan subsidi pemerintah. Meski demikian, capaian angka tersebut tidak menggambarkan kemudahan akses harga bagi masyarakat luas.

Situasi ini tercipta karena produsen otomotif memilih untuk mengalihkan sasaran pasar mereka. Dibandingkan merilis kendaraan listrik murah bagi pengguna perkotaan, pabrikan lebih mengutamakan suplai mobil berukuran besar, premium, serta berharga mahal.

Opsi model EV yang dipasarkan di Jerman melonjak tajam dari 38 pilihan pada 2020 menjadi 159 model pada 2025. Di saat bersamaan, varian kendaraan bermesin konvensional berkurang menjadi 194 model.

Dari 159 model EV yang tersedia, sebanyak 73% di antaranya mengisi kategori menengah, menengah bawah, atau menengah atas. Dalam kurun lima tahun, ketersediaan model berukuran sedang melonjak dari 16 menjadi 116 model.

Sementara itu, segmen mini dan kecil hanya memperoleh porsi 14% dari total penawaran pasar pada 2025. Langkah ini merupakan strategi bisnis terencana, bukan sekadar kelalaian pihak produsen.

Para pabrikan menyadari margin keuntungan dari kendaraan crossover besar jauh lebih menguntungkan ketimbang mobil kompak perkotaan. Akibatnya, konsumen dengan dana terbatas makin terpinggirkan karena produsen berfokus mengejar segmen perusahaan dan pembeli premium.

Ketimpangan ini makin nyata apabila melihat pergerakan biaya pembuatan baterai. Antara tahun 2020 hingga 2025, harga rerata baterai secara global merosot 35% hingga 37% setelah disesuaikan inflasi.

Secara nominal, penurunan biaya tersebut mencapai 21% hingga 24% dengan penurunan tahunan majemuk sebesar 8,6% hingga 8,8%. Idealnya, penurunan biaya komponen utama ini dapat menekan harga jual kendaraan secara langsung.

Akan tetapi, jajaran direksi pabrikan mobil memilih untuk tidak menyalurkan efisiensi biaya tersebut kepada para pembeli. Hasil penghematan biaya baterai justru dipakai memperbesar kapasitas baterai guna mendongkrak daya jelajah hingga 30%, serta menutup biaya riset awal.

Pabrikan lebih mengedepankan spesifikasi tinggi di atas kertas dibanding menghadirkan harga yang terjangkau di lapangan. Jangkauan jarak yang luas memang memikat di brosur, namun kurang berguna bagi pengemudi yang sekadar butuh mobil lincah di jalan sempit tanpa beban kredit besar.

Gambaran fisik dari dominasi crossover ukuran sedang dapat dilihat dari lini mobil terlaris di Jerman. Volkswagen ID.4 berdimensi panjang 4.584 mm, Tesla Model Y mencapai 4.790 mm, dan Hyundai Ioniq 5 berukuran 4.655 mm.

Seluruh kendaraan tersebut tidak termasuk kategori berukuran kecil dan kurang mencerminkan masa depan armada ringan serta efisien. Di sisi lain, pasar kendaraan konvensional turut mengalami lonjakan harga yang juga merugikan konsumen.

Harga nominal mobil berbahan bakar bensin dan diesel merangkak naik 24% antara 2020 dan 2025, dengan median harga dari €41.000 menjadi €46.000. Kenaikan bertahap pada mobil konvensional ini secara tidak langsung mengarahkan pembeli ke segmen listrik yang opsi murahnya pun telah dipangkas.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa gelombang transisi EV sejauh ini lebih berfokus pada restrukturisasi pasar premium ketimbang pemerataan akses. Meskipun teknologi kian matang dan pilihan model berlipat ganda, kegagalan meneruskan efisiensi biaya baterai membuat peluang penetrasi pasar massal menjadi terlewatkan.

Kami kini dihadapkan pada deretan mobil listrik canggih yang harganya masih sulit dijangkau pengendara harian. Keadaan makin rumit karena pabrikan menghadapi tekanan lain, seperti kegagalan Ford mengganti teknisi dengan AI yang membuktikan inovasi tidak selalu lancar.

Dari sisi aturan, izin bagi Tesla FSD Supervised di Eropa menunjukkan adopsi teknologi terus berjalan meski hambatan harga masih membendung konsumen kelas menengah. Pada akhirnya, kemajuan teknologi otomotif belum berbanding lurus dengan keterjangkauan harga bagi publik.

Konsumen yang mendambakan mobil listrik murah tampaknya harus menunggu lebih lama. Sebab, produsen masih berfokus mengeruk margin keuntungan tinggi dari segmen premium.

Reporter: Akbar