Dow Jones Turun 307 Poin, Pasar Tunggu Hasil Emiten Teknologi
JAKARTA - Indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026). Investor mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta menunggu laporan pendapatan perusahaan teknologi besar.
Dow Jones Industrial Average turun 307,16 poin atau 0,59 persen ke 51.839,26. S&P 500 melemah 14,41 poin atau 0,19 persen ke 7.443,28, sementara Nasdaq Composite turun 12,17 poin atau 0,05 persen ke 25.508,07.
Saham Apple Inc menjadi penekan terbesar pada S&P 500 dengan penurunan 2 persen, sedangkan Microsoft menjadi pendorong utama. Global Payments Inc naik 5,8 persen setelah Morgan Stanley menaikkan peringkat saham menjadi overweight dan target harga dari 65 dolar AS menjadi 100 dolar AS.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 15,50 miliar saham, di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 19,94 miliar saham. Nasdaq yang didominasi teknologi turun lebih kecil karena sektor chip pulih dari sebagian kerugian minggu sebelumnya, sementara sektor komunikasi dan energi ikut menguat.
Musim laporan keuangan kuartal kedua akan ramai pekan ini dengan hasil dari Alphabet, Tesla, dan Intel. “Semua orang menunggu musim pendapatan benar-benar dimulai,” kata Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi geopolitik, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, memperluas ancaman terhadap pasokan energi global. Seorang pejabat senior Iran menyebut mediator menawarkan gencatan senjata 10 hari untuk meredakan konflik.
Joe Quinlan, Kepala Strategi Pasar CIO Merrill dan BofA Private Bank, menilai resolusi konflik dapat menurunkan harga minyak dan bensin sehingga mengurangi tekanan inflasi. Pasar memperkirakan pertumbuhan pendapatan S&P 500 kuartal kedua sebesar 26 persen secara tahunan, naik dari perkiraan sebelumnya 23,7 persen. Investor juga menanti hasil produsen chip seperti Intel dan Texas Instruments setelah Indeks Semikonduktor Philadelphia SE turun lebih dari 20 persen dari rekor akhir Juni.