Roadmap Kemitraan Strategis RI–Thailand Resmi Disepakati
JAKARTA – Indonesia dan Thailand sepakat meningkatkan nilai perdagangan bilateral menjadi US dolar 20 miliar pada 2030. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai target tersebut realistis karena capaian perdagangan 2024 sudah mencapai US dolar 17,3 miliar.
“Artinya, untuk mencapai US dolar 20 miliar pada 2030, kedua negara hanya perlu menambah nilai perdagangan sekitar US dolar 2,7 miliar dalam lima tahun atau sekitar 3 persen per tahun. Dari sisi pertumbuhan, angka ini relatif konservatif,” ujar Yusuf sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski demikian, ia menekankan kualitas perdagangan lebih penting karena Indonesia masih mencatat defisit terhadap Thailand. Sektor potensial yang bisa menjadi motor peningkatan perdagangan adalah pangan dan agroindustri, energi, ekonomi digital, serta industri halal. Pemanfaatan skema Local Currency Transaction dinilai dapat menekan biaya transaksi dan risiko fluktuasi kurs.
Yusuf juga menyoroti pentingnya efektivitas Joint Trade Commission untuk mengatasi hambatan perdagangan dan mempercepat implementasi kerja sama.
Kesepakatan ini dituangkan dalam Roadmap Kemitraan Strategis Indonesia–Thailand 2026–2030 yang mencakup perluasan investasi, akses pasar, penguatan kemitraan bisnis, serta pembentukan Joint Trade Commission. Kedua negara juga sepakat memperkuat kerja sama di sektor pangan, energi, ekonomi digital, dan industri halal.
Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyambut pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta–Bangkok dan Denpasar–Phuket sebagai bagian dari penguatan konektivitas.