Laba Meroket 313 Persen, Alasan Maybank Pangkas Target Harga INCO
JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai tetap mempunyai prospek pertumbuhan yang solid setelah mencatatkan lonjakan penjualan bijih nikel pada semester I 2026. Maybank Sekuritas Indonesia memilih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO, walaupun memangkas target harga menjadi Rp 7.000 per saham dari semula Rp 8.000 lantaran penyesuaian asumsi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih nikel.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan dalam riset 31 Juli 2026 mengungkapkan bahwa akselerasi volume penjualan bijih nikel menjadi pendorong utama momentum operasional INCO menuju paruh kedua 2026.
"Kami tetap positif terhadap pertumbuhan volume INCO, meskipun harga bijih nikel yang terealisasi lebih rendah memberikan tekanan terhadap prospek laba," tulis Hasan sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kinerja semester I 2026 INCO memperlihatkan pemulihan yang signifikan. Perusahaan berhasil meraup pendapatan sebesar US$ 543 juta, tumbuh 27,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Laba kotor melonjak 404,9% secara tahunan menjadi US$ 152 juta, sedangkan laba operasional terangkat menjadi US$ 134 juta dari sebelumnya US$ 6 juta pada semester I 2025.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA INCO melipat ganda menjadi US$ 196 juta, diikuti margin EBITDA yang naik menjadi 37,4% dari 20,4%. Laba bersih pun melonjak 313% YoY hingga menyentuh US$ 104 juta.
Pencapaian tersebut memenuhi 46,4% dari proyeksi konsensus pasar dan 42,1% dari estimasi laba bersih Maybank untuk tahun penuh 2026. Hasan menilai torehan tersebut masih selaras dengan ekspektasi pasar, kendati sedikit di bawah estimasi Maybank karena realisasi harga jual bijih nikel yang lebih rendah dari perkiraan awal.
Faktor pendorong utama kinerja INCO bersumber dari peningkatan penjualan bijih nikel. Sepanjang semester I 2026, penjualan bijih nikel melesat 1.625,8% YoY mencapai 2,55 juta wet metric ton (wmt).
Jumlah tersebut setara dengan kira-kira 32% dari kuota RKAB yang diperoleh perusahaan pada awal tahun, sehingga menandakan potensi peningkatan aktivitas penjualan yang lebih besar di paruh kedua 2026.
Pada kuartal II 2026, penjualan bijih nikel naik 61% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 1,57 juta wmt. Kontributor terbesar berasal dari Bahodopi sejumlah 1,07 juta wmt dan Pomalaa sebesar 496 ribu wmt.
Harga jual rata-rata bijih nikel pada semester I 2026 tercatat menguat 70,4% YoY menjadi US$ 55,89 per wmt. Meski demikian, harga tersebut terkoreksi 8,6% secara kuartalan pada kuartal II 2026 menjadi US$ 53,94 per wmt.
Menyesuaikan pergeseran asumsi harga, Maybank menurunkan estimasi ASP campuran bijih nikel menjadi US$ 51,14 per wmt untuk 2026, US$ 45,75 per wmt untuk 2027, serta US$ 34,40 per wmt untuk 2028.
Sebelumnya, Maybank memakai patokan harga masing-masing sebesar US$ 55, US$ 47, dan US$ 40 per wmt.
Penyesuaian ini mendorong Maybank memangkas proyeksi pendapatan INCO sebesar 2,6% pada 2026, 1,1% pada 2027, dan 6% pada 2028. Estimasi EBITDA juga dikurangi masing-masing 6,3%, 2,4%, serta 12,5%.
Sementara itu, proyeksi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham (NPATMI) disesuaikan menjadi US$ 208 juta pada 2026, US$ 398 juta pada 2027, dan US$ 408 juta pada 2028.
Walau menghadapi tantangan harga jual bijih nikel, Maybank memandang prospek INCO tetap cerah berkat dorongan volume produksi dan penjualan yang makin kokoh. Dengan momentum operasional yang menguat, saham INCO dinilai terus memiliki daya tarik investasi untuk jangka menengah.
Harga saham INCO hingga pukul 14.03 WIB berada di posisi Rp 5.450 per saham, menguat 4,81% pada Selasa (4/8/2026).