Rupiah Melemah, Ekonom Prediksi Volatil hingga Akhir 2026
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Mengutip data Bloomberg, Selasa (4/8/2026) pukul 14.59 WIB, rupiah pasar spot ditutup melemah 0,49 persen atau 89,50 poin ke Rp 18.021,50 per dolar AS.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah dipicu memburuknya neraca perdagangan.
“Kondisi tersebut meningkatkan permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor sehingga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Josua sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menambahkan, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan dua bulan berturut-turut, yakni 450 juta US dolar pada Juni 2026 dan 1,61 miliar US dolar pada Mei 2026.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran 85–89 US dolar per barel akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz turut memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai tekanan eksternal masih dominan.
“Kembalinya rupiah ke level Rp 18.000 setelah sempat menguat ke Rp 17.900 menunjukkan tekanan eksternal masih lebih dominan dibandingkan faktor domestik,” kata Rizal sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menjelaskan bahwa kombinasi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta kenaikan harga minyak dunia mendorong permintaan valuta asing untuk impor.
Josua menilai dukungan terhadap rupiah terbatas karena arus modal asing masih rapuh. “Namun, ketergantungan pada instrumen BI yang berjangka pendek dan berimbal hasil tinggi membuat dukungan terhadap rupiah mudah berbalik ketika selera risiko global berubah,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Rizal menambahkan bahwa isu tata kelola dan kepatuhan di pasar modal juga memengaruhi persepsi investor.
“Reformasi kebijakan bursa memang memengaruhi persepsi investor, tetapi bukan satu-satunya penyebab,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih volatil. Josua memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.250 per dolar AS.
“Rupiah dapat beberapa kali bergerak di bawah Rp 18.000 ketika BI melakukan intervensi atau harga minyak turun. Namun, penguatan tersebut sulit bertahan selama neraca perdagangan masih defisit dan pasar masih memperkirakan suku bunga AS tetap tinggi,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Adapun Rizal memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.300 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang. “Hingga ketidakpastian global mereda, rupiah masih berpotensi bergerak volatil,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Josua memperkirakan rupiah berada di rentang Rp 17.900–Rp 18.200 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 18.050. Sementara Rizal memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.800–Rp 18.200 per dolar AS, dengan level keseimbangan di sekitar Rp 18.000 per dolar AS.