Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Penyebab dan Proyeksi 2026

Ilusrasi nilai tukar (FOTO: NET)
Penulis: Akbar
Rabu, 05 Agustus 2026 | 22:05:57 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut dipicu oleh memburuknya neraca perdagangan, tingginya harga minyak dunia, serta menguatnya daya tarik aset-aset berdenominasi dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada hari Selasa tanggal 4 Agustus 2026 pukul 14.59 WIB, rupiah pasar spot ditutup melemah 0,49 persen atau 89,50 poin ke level Rp 18.021,50 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda bersumber dari kombinasi faktor eksternal yang masih dominan serta sejumlah tantangan domestik, khususnya pada sektor perdagangan dan arus modal.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyatakan bahwa salah satu penyebab utama rupiah kembali menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS adalah memburuknya neraca perdagangan Indonesia. Beliau mencatat bahwa Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan selama dua bulan berturut-turut, di mana pada Juni 2026 defisit tercatat sebesar US$ 450 juta setelah pada Mei mencapai US$ 1,61 miliar, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kondisi tersebut didorong oleh pertumbuhan impor yang melonjak 34,27 persen secara tahunan atau year on year atau YoY, jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya 8,84 persen. Di samping itu, kenaikan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$ 85 sampai US$ 89 per barel akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz turut memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi.

"Kondisi tersebut meningkatkan permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor sehingga memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah," ujar Josua kepada Kontan, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan rupiah.

"Kembalinya rupiah ke level Rp 18.000 setelah sempat menguat ke Rp 17.900 menunjukkan tekanan eksternal masih lebih dominan dibandingkan faktor domestik," kata Rizal, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Ia menerangkan bahwa kombinasi penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury, serta kenaikan harga minyak dunia terus mendorong peningkatan permintaan valuta asing untuk impor.

Kebijakan moneter Amerika Serikat juga tetap menjadi perhatian pasar karena The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen sampai 3,75 persen. Sementara itu, kenaikan imbal hasil US Treasury membuat aset dolar AS tetap menarik bagi para investor global.

Josua berpendapat bahwa dukungan terhadap rupiah juga terbatas karena kualitas arus modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi oleh investasi jangka pendek. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, pasar saham Indonesia mencatat arus keluar atau capital outflow sekitar US$ 4,55 miliar, sedangkan arus masuk investor asing justru terkonsentrasi pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI yang mencapai US$ 9,72 miliar.

"Namun, ketergantungan pada instrumen BI yang berjangka pendek dan berimbal hasil tinggi membuat dukungan terhadap rupiah mudah berbalik ketika selera risiko global berubah," jelas Josua, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Rizal berpandangan bahwa isu tata kelola dan kepatuhan di pasar modal turut memengaruhi persepsi investor asing, meski Otoritas Jasa Keuangan atau OJK dan Bursa Efek Indonesia atau BEI telah menggulirkan berbagai agenda reformasi.

"Reformasi kebijakan bursa memang memengaruhi persepsi investor, tetapi bukan satu-satunya penyebab," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Dalam jangka pendek, kedua ekonom memprediksi pergerakan rupiah masih akan dibayangi volatilitas tinggi seiring ketidakpastian global yang belum mereda.

Josua memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.900 sampai Rp 18.250 per dolar AS dalam waktu dekat. "Rupiah dapat beberapa kali bergerak di bawah Rp 18.000 ketika BI melakukan intervensi atau harga minyak turun. Namun, penguatan tersebut sulit bertahan selama neraca perdagangan masih defisit dan pasar masih memperkirakan suku bunga AS tetap tinggi," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Josua menyarankan Bank Indonesia atau BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen serta mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun domestik non-deliverable forward atau DNDF. Meskipun demikian, ia mengingatkan agar penggunaan cadangan devisa sebesar US$ 145,6 miliar tetap dilakukan secara terukur.

Adapun Rizal memperkirakan rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp 17.900 sampai Rp 18.300 per dolar AS dalam beberapa pekan mendatang. "Hingga ketidakpastian global mereda, rupiah masih berpotensi bergerak volatil," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Untuk proyeksi hingga akhir 2026, Josua memprediksi rupiah berada di rentang Rp 17.900 sampai Rp 18.200 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp 18.050. Di sisi lain, Rizal memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.800 sampai Rp 18.200 per dolar AS, dengan level keseimbangan di sekitar Rp 18.000 per dolar AS.

Reporter: Akbar