Euro Berpotensi Menguat Lewat Aktivitas Ekonomi Pasca Konflik
JAKARTA- Michael Pfister dari Commerzbank menyoroti sensitivitas Euro (EUR) terhadap pergerakan harga minyak. Menurutnya, harga minyak yang lebih rendah cenderung menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB), sehingga membatasi penguatan Euro dalam jangka pendek.
“Semakin besar ketergantungan suatu negara pada impor energi, semakin kuat pula respons ekspektasi suku bunga bank sentral terhadap perubahan harga minyak. Hal ini berlaku bagi ECB, BoE, dan Swiss National Bank,” jelasnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pfister menambahkan, eksportir energi bersih justru mengalami penurunan terms of trade saat harga minyak turun, sehingga apresiasi mata uang mereka lebih lemah dibandingkan saat harga minyak naik.
Namun, ia menekankan bahwa berakhirnya konflik Iran secara permanen akan memberi dukungan bagi Euro melalui indikator ekonomi riil. Indeks Manajer Pembelian (PMI) diperkirakan bereaksi lebih dulu, diikuti aktivitas ekonomi yang membaik. Meski demikian, reaksi ini akan memakan waktu lebih lama dibandingkan penyesuaian ekspektasi suku bunga.
Implikasi bagi investor:
- Jangka pendek: penurunan harga minyak bisa menahan Euro lewat ekspektasi suku bunga yang lebih rendah.
- Jangka menengah: berakhirnya konflik Iran berpotensi mendukung Euro lewat penguatan PMI.
- Jangka panjang: stabilitas energi dan aktivitas ekonomi riil akan menentukan arah ECB.
Dengan demikian, Euro tetap sensitif terhadap dinamika energi global, namun prospek jangka menengah bisa lebih positif jika konflik geopolitik mereda dan aktivitas ekonomi Eropa kembali menguat.