Harga Emas Jatuh Usai Naik 3 Hari karena Minyak dan Suku Bunga

Ilustrasi Emas (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Jumat, 07 Agustus 2026 | 23:59:07 WIB

JAKARTA – Pergerakan harga emas mengalami penurunan setelah sebelumnya sempat melonjak tinggi.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (6/8/2026) berada di level US$ 4239,23 per troy ons dengan pelemahan sebesar 0,15%.

Penurunan tersebut menghentikan tren positif emas yang telah melesat 5,1% selama tiga hari berturut-turut.

Pada perdagangan Jumat (7/8/2026) pukul 06.42 WIB, harga emas bergerak sedikit membaik dengan kenaikan 0,18% ke posisi US$ 4246,89 per troy ons.

Sebab lonjakan kembali harga minyak akibat laporan rencana Iran mengkaji pembatasan kapal yang dianggap bermusuhan di Selat Hormuz membuat harga emas melandai.

Kondisi tersebut kembali memunculkan kecemasan terkait inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga.

Laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menyebutkan komite parlemen tengah meninjau draf awal undang-undang penutupan Selat Hormuz bagi kapal Amerika Serikat, Israel, dan kapal bermusuhan lainnya.

Dampak kabar itu langsung menaikkan harga minyak lebih dari US$3 per barel.

Jim Wyckoff selaku analis pasar American Gold Exchange menyampaikan bahwa draf aturan Iran berpengaruh ke pasar lantaran berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah yang akhirnya menaikkan tekanan inflasi.

"Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi karena produsen akan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan tekanan harga," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Arah kebijakan The Fed juga tetap menjadi faktor penentu utama pergerakan emas, di mana data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat diprediksi menjadi acuan suku bunga ke depan.

CME FedWatch Tool mencatat estimasi pelaku pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai 57% pada September dan naik jadi 84% pada Desember.

Tingginya tingkat suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena menaikkan biaya peluang pemegangan aset tanpa imbal hasil.

Namun, Bob Haberkorn selaku Senior Market Strategist StoneX menuturkan bahwa aliran dana mulai kembali memasuki pasar emas usai menembus beberapa level teknikal penting.

Meskipun sempat menguat signifikan, harga emas masih berada sekitar 24% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa senilai US$5.594,82 per troy ons pada akhir Januari.

Kondisi penurunan harga juga dialami oleh perak.

Data Refinitiv menunjukkan harga perak pada Kamis (6/8/2026) ditutup melemah 0,96% ke level US$ 61,48 per troy ons.

Pelemahan ini menghentikan tren positif perak yang sempat terbang 7,7% selama tiga hari beruntun.

Harga perak terus mengalami penurunan pada Jumat (7/8/2026) pukul 06.47 WIB sebesar 0,08% ke posisi US$ 61,43 per troy ons.

Reporter: Akbar