Saham Garuda Indonesia Melonjak 33,33 persen Sentuh Auto Reject Atas
JAKARTA — Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) melonjak 33,33% ke Rp72 per saham pada perdagangan Senin (10/8/2026), menyentuh auto reject atas (ARA). Lonjakan ini terjadi di tengah antusiasme pasar terhadap wacana konsolidasi Garuda dengan Pelita Air serta penantian laporan keuangan kuartal II-2026.
Menurut Kiwoom Sekuritas Indonesia, kenaikan saham GIAA lebih mencerminkan spekulasi pasar ketimbang perbaikan fundamental. “ARA belum bisa dianggap validasi fundamental karena bentuk transaksinya belum final, sementara laporan keuangan kuartal II juga belum keluar,” jelas Head of Research Liza Camelia Suryanata.
Kondisi Fundamental Garuda
- Pendapatan Q1 2026: naik 5,36% yoy
- Rugi bersih: US$47,72 juta (turun 46,22% yoy)
- Ekuitas: positif US$91,9 juta pasca private placement Rp23,67 triliun (akhir 2025)
- Liabilitas: masih tinggi, sekitar US$7,34 miliar
Risiko Konsolidasi
Manajemen Garuda telah mengonfirmasi pembahasan konsolidasi dengan Pelita Air, namun belum ada keputusan final. Menurut Liza, investor perlu mencermati:
Surviving entity: siapa yang akan menjadi pengendali
Valuasi Pelita Air: apakah wajar
Liabilitas lama GIAA: bagaimana penempatannya dalam struktur transaksi
Jika konsolidasi tidak disertai restrukturisasi fundamental, risiko moral hazard tetap besar. “Kalau setiap kali GIAA gagal profit lalu mendapat suntikan modal atau dipasangkan dengan BUMN sehat, maka tidak ada tekanan bagi manajemen untuk benar-benar memperbaiki kinerja,” tegas Liza.
Potensi Efisiensi
Sinergi Garuda–Pelita bisa membuka peluang efisiensi di:
- Jaringan rute
- Utilisasi armada
- Pengadaan bahan bakar
- Perawatan pesawat