Investor Menanti Arah Bunga The Fed, Harga Emas Melemah

Ilustrasi pasar emas (FOTO : NET)
Penulis: Akbar
Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:55:07 WIB

JAKARTA – Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan Selasa (11/8/2026), walau begitu posisinya masih berada di kisaran level tertinggi selama lebih dari dua bulan. Para pemodal saat ini tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dianggap bakal menentukan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Di pasar spot, harga emas terkoreksi 0,3 persen ke posisi US$ 4.376,31 per ons troi pada pukul 13.50 waktu AS. Pada sesi sebelumnya, emas sempat menyentuh US$ 4.434,84 per ons troi yang merupakan angka tertinggi sejak 5 Juni.

Tren kenaikan ini membawa nilai emas mendekati sekaligus berupaya melampaui rata-rata pergerakan 100 hari di angka US$ 4.387,92 per ons troi. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS justru mengalami kenaikan sekitar 0,5 persen hingga ditutup pada US$ 4.441,10 per ons troi.

Laju harga emas masih dibayangi oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter AS. Investor sedang menunggu laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang dijadwalkan terbit Rabu (12/8) waktu setempat, yang kemudian disusul data harga produsen (PPI) pada Kamis (13/8).

Kehadiran data tersebut menjadi krusial setelah laporan data tenaga kerja AS bulan Juli mencatatkan kinerja yang kurang bergairah. Situasi ini memicu pasar memangkas ekspektasi pengetatan suku bunga The Fed pada September, sekaligus mendorong harga emas melonjak hingga 2,4 persen dalam sehari.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menuturkan bahwa pasar saat ini memerlukan pembuktian bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda.

"Moderasi inflasi akan tetap mendukung harga emas," ujar Grant sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kendati demikian, potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed dipandang belum sepenuhnya tertutup. Berlandaskan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar mengalkulasikan peluang kenaikan suku bunga sebesar 50 persen pada September, sedangkan proyeksi kenaikan pada Desember berada di angka 79 persen.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, sebelumnya menyatakan bahwa sudah saatnya bagi bank sentral AS untuk mulai menaikkan suku bunga secara bertahap guna mengantisipasi kebutuhan lonjakan suku bunga yang lebih drastis kelak sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah kenaikan suku bunga umumnya memberikan dampak negatif bagi emas lantaran komoditas tersebut tidak menghasilkan imbal hasil. Sebaliknya, apabila data inflasi memperlihatkan penurunan tekanan harga serta memperkuat peluang pelonggaran moneter, minat terhadap emas berpeluang kembali terangkat.

Di luar isu moneter, dinamika pasar emas juga memantau ketegangan geopolitik global. Presiden AS Donald Trump memberikan respons terhadap tuntutan Iran mengenai kesepakatan damai dengan mendesak Teheran membayar ganti rugi atas imbas perang, serangan, maupun aksi demonstrasi.

Pada pasar komoditas lainnya, harga minyak mentah bergerak stabil di kisaran puncak tertinggi dalam seminggu terakhir di tengah eskalasi kabar tersebut.

Adapun harga perak spot terpangkas 1,4 persen ke level US$ 64,80 per ons troi. Sementara itu, platinum merosot 0,7 persen ke US$ 1.740,37 per ons troi, dan paladium terkikis 1,3 persen menuju US$ 1.365,60 per ons troi.

Reporter: Akbar